Bikin Geleng-geleng! Ternyata RI Masih Banyak Impor Sayur Ini

Aulia Damayanti - detikFinance
Kamis, 19 Mei 2022 15:12 WIB
Suasana aktivitas bongkar muat di Jakarta International Container Terminal, Jakarta Utara, Rabu (5/9/2018). Aktivitas bongkar muat di pelabuhan tetap jalan di tengah nilai tukar rupiah terhadap dolar AS terpuruk. Begini suasananya.
Foto: Pradita Utama
Jakarta -

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, impor sayuran melonjak dan menjadi komoditas impor terbesar pada periode April 2022. Besaran US$ 63,6 juta atau meningkat 111,78%.

Lantas, apa saja sayuran yang paling banyak diimpor oleh Indonesia?

Ketua Umum Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (Ikappi) Abdullah Mansuri mengatakan, berdasarkan data yang dia miliki sayuran yang paling banyak diimpor oleh Indonesia yakni bawang putih, bawang bombay, wortel, brokoli, dan paprika.

"Kalau bawang putih ini sudah jelas otomatis besar diimpor karena hampir 100% kebutuhan dalam negeri itu dari impor. Wortel ini juga salah satu komoditas sayur yang semakin besar diimpor, kedua brokoli, dan ketiga paprika, bersama sama juga bawang bombay," katanya kepada detikcom, Kamis (19/5/2022).

Menurutnya, ada beberapa komoditas itu yang sebenarnya tidak perlu diimpor. Dia mencontohkan wortel yang impornya disebut semakin banyak tiap tahunnya. Padahal produksi dalam negeri menurutnya mencukupi, apa lagi komoditas ini bukan kebutuhan pokok.

"Wortel ini kan bukan bahan pokok yang seperti cabai merah, bawang merah, bawang putih yang pokok. Jadi sebenarnya bukan menjadi potensi untuk diimpor karena produksi dalam negeri ini cukup banyak dari Jawa Tengah, Jawa Timur juga cukup memenuhi," ungkapnya.

Namun, yang disayangkan impor inilah yang memuat masyarakat juga memiliki pilihan. Karena adanya impor dengan kualitas sayur yang lebih besar secara fisik dan harganya lebih murah, masyarakat jadi beralih ke komoditas yang impor.

"Kalau wortel kita ini kan secara penampilan ya kecil-kecil, walaupun kualitas rasa kita terbaik. Namun, wortel yang impor inikan lebih besar-besar, mulus. Ini persoalan yang harus dihadapi. Masyarakat kitakan pilihannya lebih murah lebih besar. Pilihan ya akan jatuh ke impor," jelasnya.

Tingginya impor sayuran, menurutnya akan mematikan petani dalam negeri. Dia mencontohkan seperti kasus bawang putih ketika dahulu sempat berjaya dengan swasembada. Namun, ketika masuk impor bawang putih dari China yang lebih besar-besar dan murah, masyarakat memilih produk impor.

"Artinya inikan mematikan petani dalam negeri. Habislah bawang putih dalam negeri. Kita jadi nggak bisa tanam lagi sekarang," lanjutnya.

Sementara dampak ke pedagang tidak terlalu berdampak besar. "Kalau pedagang inikan jika kita terima harga segitu ya kita terima mau ga mau. Tetapi memang harga ini kan yang dimainkan beberapa pihak," pungkasnya.



Simak Video "BPS: Pertumbuhan Ekonomi RI Masih Terkonsentrasi di Pulau Jawa"
[Gambas:Video 20detik]
(zlf/zlf)