RI Banyak Impor Wortel hingga Bawang Putih, yang Lokal ke Mana?

Aulia Damayanti - detikFinance
Kamis, 19 Mei 2022 15:33 WIB
Bawang putih impor
Foto: Vadhia Lidyana
Jakarta -

Pedagang mengatakan sayuran yang paling banyak diimpor oleh Indonesia, mulai dari bawang putih, bawang bombay, wortel, brokoli, dan paprika. Peningkatan impor sejumlah komoditas itu disebut naik terus menerus.

Ketua Umum Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (Ikappi) Abdullah Mansuri mengatakan, untuk bawang putih sendiri memang Indonesia besar sekali impornya. Menurutnya hampir 100% kebutuhan itu dari impor yang dilakukan rata-rata dari China.

"Apa lagi impor tahun ini jelang Ramadan dan saat Ramadan sangat banyak untuk bawang putih ini. Ini karena produksi dalam negeri ini minim dan tidak dikembangkan," katanya kepada detikcom, Kamis (19/5/2022).

Padahal, Mansuri lebih lanjut mengatakan bawang putih ini pernah sukses swasembada pangan ketika zaman kepemimpinan Presiden kedua Indonesia, Soeharto. Menurutnya, swasembada akhirnya tidak berjalan lagi karena adanya produk bawang putih impor.

"Impor masuk dengan bawang putih yang lebih besar dan lebih murah harganya, maka habislah bawang putih kita. Masyarakat kita kan pilihannya dua lebih murah dan lebih besar," lanjutnya.

Sementara untuk sayuran lainnya, seperti wortel, menurut dia seharusnya tidak perlu impor. Berdasarkan datanya, produksi wortel dalam negeri mencukupi. Begitu juga dengan bawang bombay, brokoli, dan paprika.

"Bawang bombay ini kan bukan bahan pokok ya, tetapi ya memang masih sebagian impornya. Untuk wortel juga bukan bahan pokok yang seperti cabai merah, bawang merah, bawang putih yang pokok," ujarnya

"Jadi sebenarnya bukan menjadi potensi untuk diimpor karena produksi dalam negeri ini cukup banyak dari Jawa Tengah, Jawa Timur juga cukup memenuhi," tambangnya.

Oleh sebab itu, Manusri menyayangkan peningkatan impor pada sayur ini. Menurutnya besaran impor sayur mencapai US$ 63,6 juta mengkhawatirkan dan akan berpengaruh kepada kondisi swasembada pangan di Indonesia.

"Saya jujur, Ikappi menyayangkan peningkatan impor yang cukup besar ini, tidak hanya sayur rupanya tetapi buah juga. Angka 111% itu bukan nilai yang kecil. Kalau ini konsisten terjadi terus menerus, akan sulit bagi negara merealisasikan swasembada pangan kita," pungkasnya.



Simak Video "BPS: Pertumbuhan Ekonomi RI Masih Terkonsentrasi di Pulau Jawa"
[Gambas:Video 20detik]
(zlf/zlf)