Rusia Ngaku Sudah Bebas dari Krisis, Pengamat Sebut Datanya 'Palsu'

Achmad Dwi Afriyadi - detikFinance
Kamis, 19 Mei 2022 16:40 WIB
Rusia merayakan hari kemenangan atas Nazi Jerman pada 1945. Perayaan yang dimeriahkan dengan parade militer itu juga dihadiri oleh Presiden Rusia Vladimir Putin.
Foto: Mikhail Metzel, Sputnik, Kremlin Pool Photo via AP
Jakarta -

Rusia mengkalim telah berhasil lepas dari krisis karena mata uang yang menguat dan data ekonomi membaik. Namun, para ahli mengatakan, angka tersebut tak sesuai dengan fakta yang terjadi Rusia.

Seperti dikutip dari CNBC, Kamis (19/5/2022), klaim Rusia menyebut bahwa meski inflasi negara tersebut sedang memanas, ada tanda-tanda kenaikan harga akan melambat dan terus berlanjut. Sementara, mata uang Rusia rubel yang berada di titik terendah sepanjang masa di bulan Maret menjadi mata uang terbaik di dunia tahun ini.

Tak hanya itu, pihak pemerintahan putin mengklaim bahwa indikator kegiatan ekonomi membaik yang ditandai berhasilnya Rusia menghindari gagal bayar utang mata uang asingnya di tengah sanksi Barat yang telah membekukan sebagian besar simpanan keuangan negara tersebut.

Inflasi Rusia mencapai tertinggi dua dekade 17,8% tahun-ke-tahun di bulan April, naik dari 16,7% di bulan Maret. Tetapi kenaikan harga mulai menunjukkan tanda-tanda melambat.

Pertumbuhan harga konsumen melambat tajam dari 7,6% di bulan Maret menjadi 1,6% di bulan April, dan harga barang non makanan naik hanya 0,5%, dibandingkan 11,3% di bulan Maret.

Pasar mendukung Central Bank of Russia (CBR) atau Bank Sentral Rusia untuk terus mengurangi kenaikan suku bunga darurat, dengan kemungkinan pemotongan 200 basis poin pada bulan Juni. Itu terjadi setelah CBR menerapkan kenaikan suku bunga darurat dari 9,5% menjadi 20% pada akhir Februari, beberapa hari setelah invasi Rusia ke Ukraina dalam upaya untuk menyelamatkan rubel.

Bank sentral sejak itu dapat menggeser suku bunga menjadi 14% karena prospek inflasi dan mata uang membaik.

"Angka (inflasi) hari ini akan lebih mendukung penilaian bank sentral bahwa fase akut krisis Rusia telah berlalu," tulis Ekonom Pasar Berkembang Liam Peach dalam sebuah catatan pekan lalu.

Dolar turun sekitar 17% terhadap rubel Rusia. Langkah-langkah kontrol modal yang ketat termasuk meminta perusahaan untuk mengubah 80% pendapatan uang asing menjadi rubel telah membangkitkan mata uang terpuruk. Rusia juga awalnya melarang warganya mentransfer uang ke luar negeri hingga dibatasi US$ 10.000 per bulan hingga akhir 2022.

"Ekonomi Rusia terus pulih dari guncangan awal pada akhir Februari dan awal Maret," tulis ekonom Goldman Clemens Grafe dalam catatan awal bulan ini.

"Kekhawatiran tentang stabilitas keuangan memudar, RUB telah menguat kembali ke level awal 2020," tambahnya.

Namun klaim Rusia tak bisa sepenuhnya dipercaya. Simak penjelasan lengkap di halaman selanjutnya.