Jejak e-Commerce di Indonesia Waktu ke Waktu, Berawal dari Kaskus

Kholida Qothrunnada - detikFinance
Senin, 23 Mei 2022 19:30 WIB
Ecommerce
Jejak e-Commerce Indonesia/Foto: Shutterstock
Jakarta -

Perkembangan e-commerce di Indonesia tahun 2022 ini terbilang sangat pesat. Hal itu dibuktikan dengan banyaknya minat masyarakat dalam berbelanja online. Sejak tahun 2021, e-commerce memang diprediksikan akan menjadi tren yang terus berlangsung di masa pandemi dan terus berlanjut di kondisi normal baru seperti sekarang.

Arti e-commerce sendiri adalah Electronic Commerce atau transaksi jual beli produk baik jasa maupun barang melalui platform di internet. Contohnya Tokopedia, Shopee, Bukalapak, dan masih banyak lagi.

Melihat hal itu, bagaimana jejak e-commerce Indonesia yang telah berkembang dari tahun ke tahun? Berikut urutan perkembangan e-commerce di Indonesia yang dijelaskan oleh Anggota Dewan Pembina Asosiasi E-Commerce Indonesia (idEA) Daniel Tumiwa dalam sebuah catatan pemberitaan detikcom, yang tayang di tahun 2021 lalu.

Tahun 1990an

Pada 1994, Indosat berdiri dan menjadi Internet Service Provider (ISP) komersial pertama di Indonesia. Lalu, 5 tahun kemudian tepatnya pada 1999 Andrew Darwis mendirikan Kaskus. Diikuti dengan munculnya Bhinneka.com.

Tahun 2000an

Memasuki tahun 2000an, muncul lah Lippo Shop, yang merupakan penjualan online dari Lippo Group. Pada 2001, pemerintah menyusun draft Undang-undang e-commerce. Pada 2003 muncul multiply.com. Kemudian, di tahun pada 2005 muncul situs jual beli produk dan iklan bernama Tokobagus (sekarang berubah menjadi OLX Indonesia).

Pada 2007, layanan uang elektronik Doku diluncurkan. Pada 2009 Tokopedia didirikan. Selanjutnya, tahun 2010 aplikasi transportasi online Go-Jek didirikan oleh Nadiem Makarim. Tahun yang sama, muncul juga Bukalapak yang didirikan oleh Achmad Zaky, Nugroho Herucahyono dan Muhamad Fajrin Rasyid. Blibli yang berada di bawah bendera Djarum juga muncul pada 2010. Setahun kemudian pada 2011, disusul olej layanan tiket online, tiket.com.

Memasuki Era Munculnya Lazada hingga Shopee

Pada tahun 2012 muncul Traveloka dan idEA. Harbolnas juga didirikan tahun 2012 dan mulai diikuti oleh 150 perusahaan. Tahun yang sama, Lazada Group juga mulai mengoperasikan situs di Indonesia. Kemudian, diikuti Zalora pada 2014.

Di tahun 2014 juga, Tokopedia mendapat investasi US$ 100 juta pada saat itu. Selanjutnya, Tokobagus bergabung dengan Berniaga dan menjadi OLX Indonesia. Telkom juga meluncurkan blanja.com tahun 2014.

Pada Desember 2015 Shopee masuk ke Indonesia. Saat itu, Shopee berhasil melakukan promosi dan menguasai pasar dalam waktu yang singkat. Pada 2017, pemerintah melalui Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 74 Tahun 2017 tentang Peta Jalan Sistem Perdagangan Nasional Berbasis Elektronik (Road Map e-Commerce) tahun 2017-2019 diluncurkan.

Memasuki 2019, Bukalapak melakukan PHK massal karyawan, karena ingin menjadi Unicorn pertama yang mendapat keuntungan. Pada 2020, blanja.com memutuskan untuk menutup kegiatan bisnisnya dan tak lagi menjual produk.

Direktur Shopee Indonesia Handhika Jahja pernah mengatakan bahwa, tahun 2020 adalah tahun yang transformatif untuk pelaku e-commerce. Sebab, konsumen diharuskan mengikuti regulasi social distancing dan beraktivitas di rumah. Sehingga, mereka beralih ke platform online untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari serta mencari hiburan dan interaksi.

Selain itu, dirinya pada saat itu juga menguraikan 3 prediksi ekosistem e-commerce di 2021 yang terdiri dari pembayaran, logistik, hingga penjualan. Contohnya, pembayaran digital adalah metode transaksi terfavorit untuk e-commerce. Dengan semakin terbiasanya masyarakat dengan e-commerce, akan mulai mendorong pergerakan pembayaran tunai ke non-tunai. Hal itu memang telah nampak dan terbukti pada sekarang ini.

(fdl/fdl)