Merunut Perkembangan e-Commerce di Indonesia

Soraya Novika - detikFinance
Minggu, 07 Mar 2021 21:01 WIB
Belanja online
Foto: Shutterstock
Jakarta -

Perkembangan e-commerce di Indonesia saat ini terbilang sangat pesat. Mulai dari toko online milik Lippo Group sampai unicorn seperti Bukalapak dan Tokopedia.

Berikut urutan perkembangan e-commerce di Indonesia yang dijelaskan oleh Anggota Dewan Pembina idEA Daniel Tumiwa:

Pada 1994 Indosat berdiri dan menjadi Internet Service Provider (ISP) komersial pertama di Indonesia.

Lima tahun kemudian pada 1999 Kaskus didirikan oleh Andrew Darwis. Kemudian muncul Bhinneka.com.

Tahun 2000an muncul Lippo Shop. Penjualan online dari Lippo Group.

Pada 2001 pemerintah menyusun draft Undang-undang e-commerce. Pada 2003 muncul multiply.com.

Lalu pada 2005 muncul situs jual beli dan iklan Tokobagus.

Kemudian layanan uang elektronik Doku diluncurkan pada 2007. Pada 2009 Tokopedia didirikan. Selanjutnya 2010 transportasi online Go-Jek didirikan oleh Nadiem Makariem. Pada tahun 2010 Bukalapak juga didirikan oleh Achmad Zaky, Nugroho Herucahyono dan Muhamad Fajrin Rasyid.

Blibli yang berada di bawah bendera Djarum juga muncul pada 2010.

Setahun kemudian pada 2011 layanan tiket online tiket.com mengudara. Disusul Traveloka pada 2012 dan idEA. Harbolnas juga didirikan tahun 2012 dan mulai diikuti oleh 150 perusahaan.

Tahun yang sama Lazada Group mulai mengoperasikan situs di Indonesia. Kemudian diikuti Zalora

Pada 2014 Tokopedia mendapat investasi US$ 100 juta. Selanjutnya Tokobagus bergabung dengan Berniaga dan menjadi OLX Indonesia. Telkom juga meluncurkan blanja.com tahun 2014.

Pada Desember 2015 Shopee masuk ke Indonesia. Saat itu Shopee berhasil melakukan promosi dan menguasai pasar dalam waktu yang singkat.

Pada 2017 pemerintah melalui Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 74 Tahun 2017 tentang Peta Jalan Sistem Perdagangan Nasional Berbasis Elektronik (Road Map e-Commerce) tahun 2017-2019 diluncurkan.

Memasuki 2019 Bukalapak melakukan PHK Massal Karyawan karena ingin menjadi Unicorn pertama yang mendapat keuntungan.

Pada 2020 blanja.com memutuskan untuk tutup dan tak lagi menjual produk.

Namun tahun ini 2021 diprediksi jika e-commerce akan menjadi tren yang terus berlangsung di masa pandemi dan terus berlanjut di kondisi normal baru.

Shopee pun menguraikan 3 prediksi ekosistem e-Commerce di 2021 yang terdiri dari pembayaran, logistik, hingga penjualan.

Direktur Shopee Handhika Jahja mengatakan tahun 2020 adalah tahun yang transformatif untuk pelaku e-Commerce.

Sebab konsumen diharuskan mengikuti regulasi social distancing dan beraktivitas di rumah, sehingga mereka beralih ke platform online untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari serta mencari hiburan dan interaksi.

Pembayaran digital adalah metode transaksi terfavorit untuk e-commerce. Dengan semakin terbiasanya masyarakat dengan e-commerce, akan mulai mendorong pergerakan pembayaran tunai ke nontunai.

Shopee juga menawarkan berbagai pilihan pembayaran digital, salah satunya ShopeePay. Shopee mencatat ada peningkatan sebesar 4 kali lipat dalam jumlah total transaksi yang menggunakan ShopeePay di seluruh negara tempat Shopee beroperasi.

Menariknya peningkatan terbesar yang tercatat berasal dari pengguna yang berusia di atas usia 50 tahun, yang notabene lebih sulit untuk beradaptasi dengan pembayaran digital. Selain itu, ini juga sejalan dengan imbauan pemerintah untuk melakukan transaksi secara nontunai.

Di sisi lain dengan adanya pembatasan pergerakan dan upaya social distancing yang berkelanjutan, konsumen dan bisnis semakin merangkul pembayaran digital untuk kenyamanan dan keamanan yang lebih baik. Selain penggunaan ShopeePay dalam aplikasi, jumlah pedagang offline yang menggunakan ShopeePay juga meningkat 9 kali lipat di tahun 2020, termasuk mitra seperti Alfamart, McDonald's dan Chatime.

(dna/dna)