Rayuan The Fed Bikin Surat Utang RI Ramai-ramai Dilepas Asing

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Senin, 23 Mei 2022 18:26 WIB
Ilustrasi kurs dolar rupiah
Ilustrasi/Foto: Ari Saputra
Jakarta -

Jumlah investor asing yang memiliki utang negara melalui Surat Berharga Negara (SBN) disebut terus mengalami penurunan. Hal ini membuat banyak investor domestik yang mulai memborong SBN.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengungkapkan jika investor asing di pasar SBN tercatat turun menjadi hanya 16,42% pada posisi 19 Mei 2022.

Tahun lalu porsi investor asing masih berada di kisaran 19%, sementara tahun 2020 sebesar 25%. "Pasar obligasi domestik kita berdampak dari perubahan ekonomi global," kata dia dalam konferensi pers APBN KiTa, Senin (23/5/2022).

Dia mengungkapkan, ekspektasi kenaikan suku bunga acuan di Amerika Serikat (AS) membuat banyak aliran modal asing yang keluar dari emerging market, tak terkecuali di Indonesia. Nah kondisi ini membuat banyak investor dalam negeri yang beralih membeli.

Tapi ada juga yang harus diwaspadai, dengan adanya penurunan porsi investor asing di SBN ini. Dia menjelaskan kecenderungan kenaikan suku bunga AS ini juga akan berdampak pada imbal hasil SBN.

Kemudian juga perlu diwaspadai kondisi likuiditas seiring pulihnya sektor riil domestik, sementara capital inflow SBN masih terbatas.

"Tekanan normalisasi kebijakan moneter global dan penurunan likuiditas akan meningkatkan cost of fund," jelas dia.

Memang saat ini kenaikan Fed Fund Rate (FFR) paska pengumuman FOMC Meeting 4 Mei yang lebih hawkish menekan pasar keuangan global. Volatility indeks pasar saham (VIX) dan pasar obligasi meningkat tajam, namun kembali menurun dalam beberapa hari ini.

Kemudian Yield UST dalam tren naik diikuti kenaikan persepsi risiko investor terhadap Indonesia yang berada di atas 100. Namun dalam beberapa hari kembali menurun. Sementara itu Dollar Index tercatat meningkat lebih tinggi dibanding kondisi awal pandemi. Kurs Rupiah terhadap dolar AS mengalami depresiasi, melemah di kisaran Rp 14.600 per dolar AS.

Namun, kinerja kurs rupiah relatif lebih baik dibandingkan dengan emerging market lain seperti India, Thailand, Malaysia dan Turki.

(kil/eds)