Warga AS Mulai Ngeluh, Apa-apa Harganya Naik!

Achmad Dwi Afriyadi - detikFinance
Rabu, 25 Mei 2022 09:52 WIB
An elderly man carries his shopping in front of a grocery store in Tehran, Iran, Wednesday, May 11, 2022. Iran abruptly raised prices as much as 300% for a variety of staples such as cooking oil, chicken, eggs and milk on Thursday. (AP Photo/Vahid Salemi)
Foto: AP/Vahid Salemi
Jakarta -

Jutaan orang bekerja jarak jauh ketika pandemi. Ketika pandemi reda, mereka mulai kembali ke kantor.

Namun, para pekerja dihadapkan pada masalah baru. Mereka dihadapkan oleh harga-harga yang melonjak untuk berbagai kebutuhan.

Hal itu tentu menggerogoti pendapatan mereka. Apalagi, jika kenaikan gaji tak mampu mengikuti kenaikan harga tersebut.

Indeks makanan meningkat 7,2% dibanding tahun lalu berdasarkan laporan Departemen Tenaga Kerja. Harga makanan naik 9,4% pada bulan April dibanding periode yang sama tahun lalu. Sementara, Biro Statistik Tenaga Kerja baru saja melaporkan harga toko kelontong meningkat 10,8%.

Sejalan dengan itu, Starbucks misalnya, telah menaikkan harga produknya di AS pada awal tahun ini dan di Oktober 2021. Pihak Starbuck juga menyatakan, harga dapat terus naik.

"Semuanya lebih mahal," kata Kelly Yau McClay yang tinggal di Potomac, Maryland.

"Sebelumnya, Anda bisa mendapatkan makan siang seharga US$ 7 hingga US$12. Sekarang tidak mungkin Anda bisa mendapatkan makan siang yang layak dengan harga kurang dari US$ 15," sambungnya.

Biaya untuk ke kantor juga lebih mahal. Menurut AAA, harga rata-rata nasional untuk satu galon bensin sekarang adalah US$ 4,60. Pada Februari 2020 harganya hanya US$ 2,44.

Mike Tobin di Orlando, Florida menggunakan MPV pada Agustus 2020 biasanya mengeluarkan US$ 40 untuk mengisi tangki bensin. Saat ini, uang yang ia gelontorkan mendekati US$ 75.

"Hal mengemudi terbesar saya adalah pergi ke kantor," katanya.

Lihat Video: Penembak Texas Bunuh 18 Anak-anak, Wapres AS Kamala: Cukup Sudah!

[Gambas:Video 20detik]



(acd/dna)