Andai Rusia Gagal Bayar Utang, Siapa yang Paling Dirugikan?

Achmad Dwi Afriyadi - detikFinance
Rabu, 25 Mei 2022 15:35 WIB
Sejumlah negara Barat mengenakan sanksi ekonomi kepada Rusia. Akibatnya, mata uang rubel langsung turun hingga 30 persen. Warga ramai-ramain menarik uang sebelum makin tumbang,
Foto: AP/Alexander Zemlianichenko Jr
Jakarta -

Tingkat kepercayaan negara akan turun jika negara tersebut dinyatakan gagal bayar utang (default) terhadap utang luar negerinya. Ancaman gagal bayar utang ini tengah menghantui Rusia, sebab Amerika Serikat (AS) tengah menyiapkan 'amunisi' agar Rusia tak bisa membayar utang sebagai sanksi invasi ke Ukraina.

Banyak pihak yang bakal dirugikan jika sebuah negara tak mampu membayar utang. Siapa saja mereka?

Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Yusuf Rendy Manilet mengatakan, yang paling dirugikan dari gagal bayar utang adalah negara itu sendiri. Sebab, gagal bayar utang membuat ekonomi di negara tersebut berpotensi tidak tumbuh dan berkembang.

"Saya kira turunan turunnya pertumbuhan ekonomi sangat banyak, terutama misalnya kemudian ada berpengaruh ke angka kemiskinan, angka pengangguran itu yang beberapa turunan yang bisa terjadi ketika suatu negara yang terkena default, itu terkoreksi pertumbuhan ekonominya," jelasnya kepada detikcom, Rabu (25/5/2022).

Kemudian, yang dirugikan adalah negara yang berhubungan dengan negara yang dinyatakan gagal bayar. Sebab, mereka akan putar otak agar dana yang ditempatkan di negara gagal bayar bisa kembali.

"Akan menjadi semakin besar masalahnya kalau penempatan dana instrumen itu merupakan dana-dana investasi dana pensiun, asuransi itu yang akan menjadi tambahan masalah negara tersebut," jelasnya.

Sementara, Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Tauhid Ahmad mengatakan, yang paling dirugikan adalah investor yang menempatkan dananya di negara yang gagal bayar. Berikutnya, masyarakat menengah bawah di negara yang gagal bayar, khususnya masyarakat yang selama ini juga mengandalkan anggaran pemerintah.

" Di tengah situasi gagal bayar pasti ada realokasi anggaran untuk membayar pinjaman," ujarnya.

Dunia usaha juga dirugikan dengan situasi ini. Sebab, prospek ekonomi menjadi turun.

Tauhid menambahkan, negara mitra dagang juga tak luput dari dampak sebuah negara gagal bayar.

"Kalau negara luar prinsipnya sama, tapi lebih kepada negara mitra dagang, baik ekspor impor. Kalau negara mitranya gagal bayar, dia bayar impor kita gimana ya," ujarnya.

(acd/dna)