Rusia Terancam Gagal Bayar Utang, Negara-negara Ini Sudah Duluan

Achmad Dwi Afriyadi - detikFinance
Rabu, 25 Mei 2022 16:45 WIB
Sejumlah negara Barat mengenakan sanksi ekonomi kepada Rusia. Akibatnya, mata uang rubel langsung turun hingga 30 persen. Warga ramai-ramain menarik uang sebelum makin tumbang,
Foto: AP/Alexander Zemlianichenko Jr
Jakarta -

Ancaman gagal bayar utang (default) sedang mengintai Rusia. Sebab, Amerika Serikat (AS) akan mengakhiri pengecualian untuk pembayaran pada pemegang obligasi.

Gagal bayar utang memberikan dampak yang besar pada sebuah negara, termasuk masyarakat di negara tersebut.

Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Yusuf Rendy Manilet mengatakan, gagal bayar menyebabkan kepercayaan terhadap negara yang bersangkutan menjadi turun. Kondisi itu membuat negara yang bersangkutan melakukan restrukturisasi.

Restrukturisasi ini seperti pengetatan anggaran belanja dan memperbesar penerimaan. Imbasnya, masyarakat di negara itu turut menanggung bebannya.

Hal ini sebagaimana terjadi di Yunani pasca krisis 2008 yang ditetapkan sebagai negara gagal bayar.

"Dan juga akhirnya Yunani harus menannggung beban itu tadi, pengetatan anggaran yang di beragam literatur ini diperdebatkan karena pengetatan anggaran justru memberikan dampak yang lebih buruk ke masyarakat, untuk perekonomian secara umum," katanya kepada detikcom, Rabu (25/5/2022).

"Karena beragam belanja kemudian dipangkas, tarif pajak kemudian naik," tambahnya.

Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Tauhid Ahmad menjelaskan, gagal bayar utang memberikan dampak yang luas. Dampaknya antara lain ekonomi turun, penciptaan lapangan kerja sulit, investasi tidak masuk dan dunia usaha terpukul. Kondisi negara yang gagal bayar seperti halnya Sri Lanka.

"Bisa dilihat kaya sekarang Sri Lanka, gagal bayar kan, dia mau impor bahan makanan, devisanya nggak ada, karena tadi kan uangnya nggak ada, ekonomi turun, keuangan turun," katanya.

Dia mengatakan, pada akhirnya jalan keluar untuk menyelesaikan masalah tersebut adalah dengan pinjaman dengan bunga yang tinggi.

"Pada akhirnya masing-masing negara pada akhirnya meminjam apakah dari lembaga internasional, bilateral, multilateral, atau minjam dari dalam negeri tingkat bunga lebih tinggi agar orang mau beli surat berharga mereka digunakan untuk ekspansi fiskal," katanya.

Simak juga Video: Tentara Rusia Divonis Penjara Seumur Hidup di Sidang Kejahatan Perang

[Gambas:Video 20detik]



(acd/dna)