Badai PHK Guncang Startup, Pengamat: Pendanaan ke Sini Kian Sulit

Shafira Cendra Arini - detikFinance
Jumat, 27 Mei 2022 12:13 WIB
Ilustrasi PHK
Foto: Ilustrasi PHK (Tim Infografis: Zaki Alfarabi)
Jakarta -

Kondisi perusahaan rintisan atau start-up kian menjadi perbincangan dalam beberapa waktu terakhir ini. Pasalnya, perusahaan-perusahaan tersebut disinyalir terkena dampak ledakkan gelembung atau bubble burst hingga mengambil langkah pemutusan hubungan kerja atau PHK terhadap karyawannya secara besar-besaran.

Direktur Eksekutif Indonesia ICT Institute Heru Sutadi mengatakan kondisi ini didorong fakta sulitnya startup mencari pendanaan saat ini. Sementara untuk meraih pengguna, rata-rata start-up harus melakukan bakar uang.

"Pendanaan kian ke sini juga kian sulit, apalagi untuk layanan yang sudah melewati fase pertumbuhannya seperti e-commerce, pembayaran digital, travel dan edukasi, digantikan dengan arah baru startup yang mengusung kecerdasan buatan, big data analytic, internet of things, maupun metaverse," ujar Heru kepada detikcom, Jumat (25/05/2022).

Heru juga menambahkan bahwa saat ini memang banyak startup sudah membuktikan keuntungan konsisten, tetapi perjalanan masih berat karena ada pengembalian pendanaan kepada investor.

"Linkaja, Zenius, memang cukup berat karena pemain utamanya sudah jauh di depan. Kalau mau maju harus kuat bakar uang," tambahnya.

Dengan adanya kondisi tersebut, Heru mengatakan bahwa sebagai langkah menghadapinya, restrukturisasi jadi salah satu pilihan dan solusi bagi para startup untuk bertahan.

Hal ini juga senada dengan yang disampaikan Direktur Center of Economic and Law Studies (CELIOS) Bhima Yudhistira. Dia mengatakan bahwa penyebab PHK beberapa startup terjadi karena alami kesulitan pendanaan setelah rencana bisnis terpengaruh pandemi COVID-19 dan penurunan pengguna yang signifikan.

Ia menjelaskan, sebenarnya selama pandemi ada lonjakan pelanggan internet tapi tidak secara merata dirasakan oleh semua startup

"Faktornya, secara makro kenaikan tingkat suku bunga diberbagai negara membuat investor mencari aset yang lebih aman. Imbasnya saham startup teknologi dianggap high risk. maka banyak yang meramal tahun ini adalah winter-nya startup alias tekanan sell-off besar-besaran di industri digital," ujarnya.

Akhirnya, lanjut Bhima, banyak startup kesulitan mendapatkan pendanaan baru dan investor makin selektif dalam memilih startup.

Sebagai tambahan informasi, terdapat beberapa start-up di Indonesia yang dikabarkan telah melakukan PHK, antara lain LinkAja, Zenius Education, Fabelio, dan JD.ID.

Tonton juga Video: Sejumlah Eks Pegawai BPPT Kena PHK, Komnas HAM Bakal Panggil BRIN

[Gambas:Video 20detik]



(eds/eds)