Nestapa Badai PHK di Startup, Mau Maju Harus Kuat Bakar Uang

Shafira Cendra Arini - detikFinance
Jumat, 27 Mei 2022 14:07 WIB
Ilustrasi keuangan keluarga karena Corona
Ilustrasi/Foto: Getty Images/iStockphoto/CentralITAlliance
Jakarta -

Beberapa perusahaan rintisan atau startup di Indonesia mengambil langkah pemutusan hubungan kerja (PHK) kepada karyawannya akhir-akhir ini. Fenomena ini disebut berkaitan dengan terjadinya gelembung pecah atau bubble burst.

Direktur Eksekutif Indonesia ICT Institute Heru Sutadi mengatakan startup yang mau bertahan dan terus maju harus kuat membakar uang. Artinya permodalan harus kuat untuk bisa terus mendulang konsumen.

"Linkaja, Zenius, memang cukup berat karena pemain utamanya sudah jauh di depan. Kalau mau maju harus kuat bakar uang," ujar Heru kepada detikcom, Jumat (25/05/2022).

"Nantinya, masing masing layanan, paling hanya 3-4 pemain utama. Seperti transportasi online ya Gojek dan Grab, pembayaran digital ya Gopay, OVO, lagi merangsek pasar Shopeepay, begitu juga e-commerce," tambahnya.

Sementara itu, pengamat e-commerce, Ignatius Untung menilai model bisnis yang dijalankan oleh startup memang harus bakar uang. Hal ini biasa dilakukan dalam masa perkembangan awalnya mengejar attraction atau ketertarikan dari pangsa pasar.

"Seperti diskon misalnya. Diskon itu kan tujuannya menarik orang, kemudian akan diuji market fit tersebut ketika diskonnya mulai dikurangi sampai nol. Proses itu pun tidak langsung terlihat. Maka dari itu akan terus berputar. Itu kan uangnya terpakai, kemudian habis, menghasilkan lagi dan terus berulang lagi," ujar Ignatius.

Eks ketua umum asosiasi e-commerce Indonesia itu menjelaskan, dalam model bisnis startup, pemasukan utama didapatkan melalui investor sehingga siklus bakar uang tersebut menjadi salah satu langkah dalam membuktikan cost structure start-up tersebut apakah dapat bertahan atau tidak.

(eds/eds)