Cerita Luhut Batal Sambangi Bos IMF Gegara Urus Minyak Goreng

Anisa Indraini - detikFinance
Jumat, 27 Mei 2022 14:28 WIB
Menteri Koordinator Kemaritiman
Foto: Muhammad Ridho: Menko Kemaritiman & Investasi Luhut Binsar Pandjaitan
Jakarta -

Menteri Koordinator (Menko) Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan mendapat tugas khusus dari Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengatasi masalah minyak goreng. Alhasil, Tugas baru itu membuat Luhut batal menghadiri acara World Economic Forum (WEF) di Davos, Swiss, sekaligus bertemu Managing Director IMF Kristalina Georgieva.

Hal itu diceritakan Luhut saat menghadiri seminar nasional yang digelar Sekolah Tinggi Teknologi Angkatan Laut (STTAL) pada Rabu (25/5) dan ditayangkan di kanal Youtube TNI Angkatan Laut.

Awalnya Luhut menjelaskan pemulihan ekonomi dunia pascapandemi COVID-19 terkendala dampak perang Rusia dan Ukraina. Ramalan itu dari berbagai lembaga dunia seperti Dana Moneter Internasional (IMF), Bank Dunia, serta Organisasi Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD).

Setelah itu, Luhut menceritakan pembicaraannya dengan Managing Director IMF Kristalina Georgieva via telepon. Harusnya mereka bertemu di Davos, tetapi karena diminta mengurusi minyak goreng, rencana pertemuan itu batal.

"Dia teman baik saya ada di Davos. Tadinya kami janji ke Davos, tapi karena saya diminta ngurusin minyak goreng, saya nggak jadi ke Davos. Di Davos tadinya kami mau berbicara banyak hal dengan IMF maupun dengan beberapa orang dari Bank Dunia," ujar Luhut.

Luhut mengklaim lembaga-lembaga dunia di atas kerap memberikan apresiasi mengenai Indonesia. Berbeda dengan pengamat Indonesia, yang disebut asal komentar tanpa melihat situasi secara menyeluruh.

"Kita aja kadang-kadang dalam negeri ini asal ngomong nggak ada pakai data. Jadi saya titip para perwira, Anda itu bicara pakai data. Jadi data itu yang Anda bicara. Ini saya kira sangat penting dan saya senang STTAL juga untuk mendidik para perwira bicara dengan data," kata Luhut.

"Kita banyak pengamat-pengamat kita asal nggak lihat lengkap, terus komentar. Komentarnya dia pun belum pernah melaksanakan betapa kompleksnya penyelesaian masalah ini, sudah berkomentar pada masalah itu," lanjutnya.

Bersambung ke halaman berikutnya. Langsung klik