3 Pengusaha Ini Tajir Melintir Berkat Bisnis Kayu, Siapa Saja?

ADVERTISEMENT

3 Pengusaha Ini Tajir Melintir Berkat Bisnis Kayu, Siapa Saja?

Achmad Dwi Afriyadi - detikFinance
Rabu, 01 Jun 2022 20:00 WIB
Sukanto Tanoto
Sukanto Tanoto/Foto: Dok. Forbes
Jakarta -

Kayu merupakan salah satu komoditas penting. Sebab, kayu bisa digunakan untuk memenuhi berbagai kebutuhan manusia seperti untuk bangunan rumah, perabot, dan lain sebagainya.

Bagi sebagian orang, kayu merupakan komoditas bisnis yang menggiurkan. Tak heran, ada sejumlah orang yang tajir melintir berkat kayu. Siapa saja mereka?

1. Prajogo Pangestu

Seperti dikutip dari Forbes, Rabu (1/6/2022), Prajogo memiliki kekayaan sebesar US$ 5,5 miliar atau sekitar Rp 79,75 triliun (asumsi kurs Rp 14.500). Dari profil singkat Forbes disebutkan, ia merupakan anak dari seorang pedagang karet. Prajogo memulai bisnis kayu di akhir tahun 1970-an.

Perusahaanya Barito Pacific Timber go public pada tahun 1993 dan kemudian berganti nama menjadi Barito Pacific. Pada 2007, Barito Pacific mengakuisi 70% perusahaan petrokimia Chandra Asri. Selanjutnya, Chandra Asri bergabung dengan Tri Polyta Indonesia dan menjadikannya produsen petrokimia terintegrasi terbesar.

Sementara, dari laman Barito Pacific disebutkan, perusahaan dibangun dari perusahaan berbasis kayu terpadu pada 1979. Kemudian, Barito Pacific Timber berubah menjadi Barito Pacific pada 2007 sebagai upaya untuk menjadi perusahaan sumber daya yang terdiversifikasi.

2. Sukanto Tanoto

Sukanto tercatat memiliki kekayaan US$ 1,9 miliar atau Rp 27,55 triliun. Dikutip dari laman RGE, Sukanto memulai bisnisnya pada 1967 sebagai pemasok suku cadang dan pengusaha di bidang jasa kontruksi untuk industri minyak.

Pada 1973, ia mendirikan RGE di bidang kayu lapis. RGE kemudian berkembang menjadi pemain lokal hingga global . Saat ini, kelompok usahanya telah menjadi bisnis terkemuka di bidang industri pulp dan kertas (APRIL dan Asia Symbol), minyak kelapa sawit (Asian Agri dan Apical), serat viscose (Sateri dan Asia Pacific Rayon), selulosa khusus (Bracell), serta pengembangan sumber daya energi (Pacific Oil & Gas), dengan wilayah operasi di Indonesia, Tiongkok, Brasil, Spanyol, dan kantor-kantor pemasaran di banyak negara di seluruh dunia.

3. Putera Sampoerna dan Keluarga

Dalam catatan Forbes, Putera Sampoerna dan keluarga memiliki kekayaan US$ 1,8 miliar atau Rp 26,10 triliun. Putera Sampoerna telah menjual bisnis rokoknya ke Philip Morris seharga US$ 2 miliar pada 2005.

Melalui grup Sampoerna Strategic, keluarga tersebut kini memiliki investasi di bidang pertanian, keuangan, telekomunikasi, dan kayu.

(acd/fdl)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT