ADVERTISEMENT

Dituding Bantu Rusia Serang Ukraina, CEO Yandex Mundur

Shafira Cendra Arini - detikFinance
Senin, 06 Jun 2022 11:49 WIB
CEO Yandex Arkady Volozh
Foto: Dok. Reuters
Jakarta -

CEO Yandex Arkady Volozh mundur dari jabatannya tidak lama setelah Uni Eropa menjatuhkan sanksi kepadanya. Uni Eropa menduga Volozh membantu Rusia saat menginvasi Ukraian.

Perusahaan raksasa teknologi yang berdiri sejak 1997 ini mengumumkan pengunduran Volozh, sang pendirinya itu, pada Jumat (03/06/2022) dilansir melalui Reuters.

Sementara itu, Uni Eropa memberikan sanksi kepada Volozh atas tuduhan memberikan dukungan 'material atau finansial' kepada Rusia, yang mengirimkan puluhan ribu pasukan tentara ke Ukraina pada Februari silam.

Meski begitu, Volozh mengatakan bahwa tuduhan Komisi Eropa tersebut sebagai salah alamat. Meskipun ada sanksi, dia menyerahkan pemungutan suara kepada direksi perusahaan. Sementara itu, Yandex sendiri tidak terkena sanksi dari Uni Eropa.

Perusahaan tersebut mengatakan bahwa mereka yakin pengunduran diri Volozh tidak berpengaruh terhadap operasi, keadaan finansial, dan hubungan mereka dengan mitra.

"Direksi terus berfungsi secara normal. Yandex memiliki tim manajemen yang kuat, yang mampu membawa perusahaan ii ke tingkat berikutnya dengan dukungan yang kuat dari dewan," kata Yandex.

Sebagai tambahan informasi, Rusia menyerang Ukraina sejak 24 Februari 2022. Mereka menyebut agresi tersebut sebagai 'operasi militer khusus' untuk 'denazifikasi' negara tetangga mereka itu.



Simak Video "Tantangan Putin ke Negara Barat untuk Kalahkan Rusia di Medan Perang!"
[Gambas:Video 20detik]
(das/das)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT