ADVERTISEMENT

Pandemi Landai, Pengusaha Alkes Ini Tak Lagi Masuk 10 Orang Terkaya Malaysia

Shafira Cendra Arini - detikFinance
Jumat, 10 Jun 2022 15:01 WIB
Untuk menyemarakan Pilwakot Kota Solo sebuah TPS 039 di Dukuhan Nayu RW 21 Kelurahan Banjarsari Solo melakukan pemungutan dengan tema Sadar PROKES. Petugas pemungutan suara menggunakan Alat Pelindung Diri (APD) Hazmat.
Ilustrasi APD/Foto: kartika bagus
Jakarta -

Kekayaan para pebisnis sarung tangan medis menukik tajam beriringan dengan penurunan kasus Covid-19 di Malaysia. Di tengah kondisi tersebut, indeks saham perawatan kesehatan Malaysia pun turun 37% pada 2021 lalu, hingga menyebabkan pengusaha-pengusaha yang masuk ke dalam daftar orang terkaya di Malaysia itu harus berjuang menghadapi kondisi pahit.

Dilansir dari Forbes pada Kamis (08/06/2022), penurunan pendapatan ini menyebabkan dua miliarder Malaysia yang terjun ke industri sarung tangan medis terdorong keluar dari posisi 10 besar orang terkaya di Malaysia, yakni Kuan Kam Hon dari Hartalega dan Lim Wei Chai dari Top Glove. Kedua perusahaan itu merupakan dua dari empat perusahaan produksi sarung tangan terbesar di Malaysia.

Pemilik Hartalega, Kuan Kam Hon merupakan satu dari sekian banyak hartawan yang terdampak. Dirinya melihat kekayaan yang dia miliki berkurang setengahnya sejak 2021 lalu menjadi US$ 1,9 miliar atau setara dengan Rp 27,7 triliun (kurs Rp 14.570,50). Saham Hartalega, yang dimilikinya sebesar 46%, turun 57% bahkan ketika pendapatan fiskal 2022 naik 18% menjadi 7,9 miliar ringgit (US$ 1,8 miliar) dari tahun sebelumnya.

Selanjutnya kekayaan Lim Wee Chai, pendiri Top Glove, yang juga mengalami penyusutan 60% menjadi US$ 1,4 miliar atau sekitar Rp 20 triliun. Sebelumnya Top Glove sempat mengalami penyusutan pendapatan hingga 70% selama enam bulan sampai Februari 2022. RHB Research yang berbasis di Malaysia telah memangkas perkiraan pendapatan fiskal 2022 Top Glove sebesar 19%, dan proyeksi fiskal 2023 sebesar 4%.

Selain itu, kekayaan pendiri Kossan Rubber Industries, Lim Kuang Sia, juga berkurang hampir setengahnya menjadi US$ 740 juta atau sekitar Rp 10,8 triliun karena saham perusahaan tersebut. Dirinya memegang 48% saham bersama saudaranya dan turun 60% pada tahun lalu. Tidak hanya itu, laba bersih perusahaan anjlok 91% pada kuartal pertama tahun ini setelah lebih dari dua kali lipatnya di tahun 2021.

Saham Riverstone Holdings milik Wong Teek Son, juga terkena imbasnya. Dirinya melaporkan penurunan tajam dalam pendapatan dan laba bersih pada kuartal pertama tahun 2022 yakni sebesar 47%, menyeret kekayaannya turun lebih dari sepertiga menjadi US$ 565 juta atau setara Rp 8 triliun.

Yang terakhir ialah Stanley Thai dari Supermax dan istrinya Cheryl Tan, di mana kekayaan yang mereka miliki kini mencapai US$ 340 juta atau setara Rp 4,95 triliun, turun lebih dari dua pertiganya dari kekayaannya tahun lalu yakni US$ 1,1 miliar.

Sebagai tambahan informasi, Hartalega Holdings, Top Glove, Kossan Rubber Industries, dan Supermax merupakan empat perusahaan terbesar yang memproduksi sarung tangan di Malaysia. Perusahaan tersebut telah melakukan pembayaran remediasi sejak 2020 kepada pekerja asing, yang membayar biaya rekrutmen selangit untuk mendapatkan pekerjaan, dan menerapkan standar upah yang tinggi.

Industri sarung tangan Malaysia, yang memasok 65% permintaan global, juga menghadapi persaingan dari CHina dan Thailand. Pun biaya operasional mereka meningkat di tengah meningkatnya pengawasan AS terhadap praktik perburuhan industri.



Simak Video "Banyak Orang Tajir Jual Rumah di Pondok Indah-Menteng"
[Gambas:Video 20detik]
(zlf/zlf)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT