ADVERTISEMENT

Jokowi Jadi Anggota 'Avengers', Dikawal PBB Lawan Krisis Global

Aulia Damayanti - detikFinance
Jumat, 10 Jun 2022 15:44 WIB
Jokowi
Foto: 20Detik
Jakarta -

Presiden Joko Widodo (Jokowi) telah terpilih menjadi salah satu pemimpin dunia yang masuk dalam kelompok penanganan krisis global. Kelompok itu bernama Global Crisis Response Group (GCRG) yang terdiri dari lima pemimpin dunia lainnya.

Bak Avengers, tim pahlawan super fiksi dalam komik Marvel yang ingin menyelamatkan dunia, di kelompok GCRG ini Indonesia nantinya akan ikut memimpin penanganan krisis global. Fokus itu dilakukan sejak April tahun ini hingga 2023.

Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Susiwijono Moegiarso bercerita bahwa Jokowi telah ditelepon langsung oleh Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Antonio Guterres. Dalam komunikasi itu, Sekjen PBB menyampaikan laporan terbaru mengenai keadaan krisis global.

"Secara khusus Sekjen PBB telepon menghubungi khusus Jokowi pada 23 Mei itu menyampaikan perkembangan terakhir dari global crisis yang intinya pertama dari beberapa analisis dan kajian sepertinya konflik Rusia dan Ukraina masih cukup panjang," ungkapnya dalam agenda Media Briefing Global Crisis Response Group (GCRG), di Kemenko Perekonomian, Jumat (10/6/2022).

Dalam diskusi itu, konflik Ukraina dan Rusia disebut belum bisa selesai dalam jangka pendek. "Artinya kondisi saat ini kondisi global crisis akan terjadi di tiga sektor, food, energy, finance," tambahnya.

Susiwijono menjelaskan dalam perannya, Indonesia disebut akan ikut menangani ketiga masalah krisis global tersebut. Untuk masalah energi, Indonesia akan ikut mencari solusi berkaitan dengan masalah harga dan pasokan.

"Tetapi di sisi lain, kita juga mendorong transisi energi," lanjutnya.

Kemudian masalah pangan, saat ini pasokan dan stabilisasi harga di global masih menjadi masalah. Menurut Susiwijono, komitmen global dalam mengatasi krisis pangan ini harus dilakukan, jangan sampai semakin banyak negara hanya memikirkan keadaan nasionalnya.

"Semua negara membutuhkan negara lain. Tidak bisa masing-masing negara memikirkan nasionalnya saja semacam protect artinya kita harus duduk bersama menjaga harga dan pasokan pangan di dunia," tutupnya.

(eds/eds)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT