Geger Pengusaha Nasi Padang Babi, Apa yang Salah dari Bisnisnya?

ADVERTISEMENT

Geger Pengusaha Nasi Padang Babi, Apa yang Salah dari Bisnisnya?

Ilyas Fadilah - detikFinance
Sabtu, 11 Jun 2022 06:30 WIB
Pemilik usaha nasi padang babi, Sergio (Anggi-detikcom)
Foto: Pemilik usaha nasi padang babi, Sergio (Anggi-detikcom)
Jakarta -

Menu masakan Padang dari sebuah restoran viral hingga bikin geger lantaran memakai daging babi. Modifikasi menu dari bisnis kuliner ini diprotes karena dianggap menghina budaya masyarakat Minang.

Menurut akademisi dan pakar bisnis Profesor Rhenald Kasali, modifikasi makanan sebenarnya lumrah dilakukan. Namun branding dalam bisnis kuliner punya etika yang sangat ketat.

"Masyarakat Muslim sensitif dengan kata babi, jangan memancing keributan," katanya saat dihubungi detikcom, Jumat (10/6/2022).

Rhenald menyebut branding restoran Padang dengan daging babi memang menyinggung masyarakat. Namun, ia tidak sependapat jika rendang babi dikatakan sebagai bentuk penghinaan.

"Saya kurang setuju (bentuk penghinaan). Kalau memang jadi pro kontra, ya sudah namanya jangan jadi rendang. Simpel aja," katanya.

Menurut Rhenald, rendang babi bisa dikatakan menyinggung saat pembuatnya tidak terbuka pada konsumen. Atau menargetkan konsumen Muslim yang bisa berbahaya dan melanggar etika. Namun jika sudah tertera keterangan babi pada menu, harusnya itu tidak menjadi masalah.

"Kecuali kalau targetnya Muslim, itu baru berbahaya. Itu desensitif, dia melanggar etika." kata Rhenald.

Rhenald menyarankan, masyarakat yang membuat rendang menggunakan daging babi tidak perlu menggunakan nama rendang. Dan masyarakat Muslim yang mengetahui produk tersebut daging babi tidak perlu mengkonsumsinya.

Ia berharap masyarakat bisa lebih dewasa dan jangan menjadi pihak yang memperkeruh suasana. Menurutnya keributan yang menyangkut masalah etnis adalah hal yang tidak perlu.

Rhenald menyebut Indonesia memang sensitif bila menyangkut makanan, khususnya halal-haram. Ini terjadi sejak lama dan menjadi sesuatu yang rawan dan berbahaya.

(hns/hns)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT