ADVERTISEMENT

Sebut Ekonomi 60 Negara Mau Ambruk, Jokowi Minta Hati-hati

Anisa Indraini - detikFinance
Selasa, 21 Jun 2022 15:53 WIB
Tahun berapa Jokowi lahir? Presiden Jokowi lahir pada tahun 1961. Hari ini, 21 Juni 2022 adalah ulang tahun Presiden Jokowi yang ke 61.
Presiden Joko Widodo (Jokowi)/Foto: BPMI Setpres
Jakarta -

Presiden Joko Widodo (Jokowi) kembali mengingatkan bahwa saat ini dunia dalam keadaan tidak mudah dan penuh dengan ketidakpastian. Berdasarkan informasinya ada 60 negara yang akan ambruk, 42 di antaranya sudah pasti menuju ambruk.

"Bank dunia menyampaikan, IMF menyampaikan, UN PBB menyampaikan terakhir baru kemarin saya mendapatkan informasi 60 negara akan ambruk ekonominya, 42 dipastikan sudah menuju ke sana," kata Jokowi dalam acara Rakernas PDI Perjuangan, Selasa (21/6/2022).

Jokowi mengatakan jumlah negara yang bakal ambruk ekonominya ini sangat banyak. Dia meminta semua pihak waspada.

"Siapa yang mau membantu mereka kalau sudah 42. Mungkin kalau 1, 2, 3 negara krisis bisa dibantu dari lembaga-lembaga Internasional, tapi kalau sudah 42 nanti betul dan mencapai bisa 60 betul, kita nggak ngerti apa yang harus kita lakukan sehingga berjaga-jaga, waspada, hati-hati adalah hal yang sangat kita perlukan. Hati-hati mengenai ini, kita tidak berada pada posisi normal," tuturnya.

Meski dunia pernah mengalami beberapa kali krisis, namun Jokowi menyebut krisis kali ini terbilang mengerikan sebab datangnya secara bertubi-tubi.

"Beberapa krisis pernah kita alami tapi ini bertubi-tubi krisisnya, krisis karena pandemi, mau pulih kemudian ada perang, kemudian masuk merembet ke mana-mana, masuk ke krisis pangan, masuk ke krisis energi, masuk ke krisis keuangan. Kalau kita semakin tahu, semakin ngeri," imbuhnya.

Jokowi mencontohkan beberapa negara sudah kesulitan akibat krisis melanda yang disebabkan karena perang Rusia dan Ukraina. Mereka disebut tidak bisa membeli BBM hingga pangan karena tak punya cadangan devisa.

"Saya kira kita tahu semuanya, sudah 1, 2, 3 negara yang mengalami tidak punya cadangan devisa, tidak bisa beli BBM. Tidak punya cadangan devisa tidak bisa beli pangan, tidak bisa beli energi karena pangan dan energinya impor semuanya. Kemudian terjebak juga kepada pinjaman utang yang sangat tinggi karena dept rasionya terlalu tinggi. Jadi sekali lagi, ngeri saya kalau lihat angka-angkanya," tuturnya.

Simak juga Video: Jokowi Bahas Kerja Sama Ekonomi-Isu Iklim dengan Presiden Jerman

[Gambas:Video 20detik]




(aid/ara)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT