ADVERTISEMENT

Negara G20 Siapkan Rp 16 T Buat Ancaman Pandemi Baru, RI Rogoh Rp 735 M

Anisa Indraini - detikFinance
Rabu, 22 Jun 2022 10:07 WIB
Ketua DPR RI Puan Maharani didampingi anggota dewan dan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, menyampaikan kerangka kebijakan ekonomi makro dan pokok-pokok kebijakan fiskal (KEM PPKF) tahun 2022, di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Kamis (20/05/2021).
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati/Foto: Rengga Sancaya
Jakarta -

Para negara anggota G20 sepakat mengamankan dana US$ 1,1 miliar atau Rp 16,17 triliun (kurs Rp 14.700) yang merupakan Dana Perantara Keuangan atau Financial Intermediary Fund (FIF). Dana itu diamankan untuk kesiapsiagaan, pencegahan, dan penanggulangan pandemi (PPR) di masa mendatang.

Hal ini diungkapkan oleh Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dalam acara 1st G20 Joint Finance and Health Ministers' Meeting (JFHMM) di bawah Kepresidenan G20 Indonesia. Dari jumlah itu, Indonesia menyumbang US$ 50 juta atau setara Rp 735 miliar.

"Dengan senang hati saya sampaikan bahwa komitmen kontribusi sejumlah hampir US$ 1,1 miliar telah diamankan untuk FIF guna pencegahan, kesiapsiagaan, dan respons pandemi. Angka tersebut sudah termasuk kontribusi sebesar US$ 50 juta dari Indonesia," kata Sri Mulyani secara virtual Selasa (21/6/2022) malam.

Dana tersebut merupakan bentuk komitmen dari negara anggota G20. Mekanisme FIF merupakan pembiayaan multilateral baru yang didedikasikan untuk mengatasi kesenjangan pembiayaan PPR pandemi.

Para Menteri Keuangan dan Menteri Kesehatan G20 menyambut baik perkembangan yang telah dicapai dalam pembentukan FIF yang ditempatkan di Bank Dunia selaku Wali Amanat. Tata kelola serta pengaturan operasional FIF akan terus dibahas jelang rencana pengumuman formal pembentukannya pada Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) para Pemimpin G20 pada November 2022.

Hasil JFHMM ini akan menjadi bagian diskusi Pertemuan Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Sentral di Juli mendatang dan ditindaklanjuti pada Joint Finance and Health Task Force (JFHTF) selanjutnya dalam rangka menuju JFHMM ke-2 yang akan diselenggarakan pada November 2022.

"Dewan bank akan bertemu pada Juni (tanggal) 30. Pada saat itu jika disetujui oleh dewan, maka FIF ini akan mulai beroperasi," kata Sri Mulyani.

Beberapa menteri meminta tambahan elemen penting dalam FIF yakni memperkuat kolaborasi antar menteri keuangan dan menteri kesehatan negara G20, maupun antar negara maju dan negara berkembang. Penggunaan sumber daya FIF juga diminta agar tidak hanya didominasi oleh negara pendiri dan kontributor, namun juga negara penerima yang membutuhkan dana tersebut.

"Yang paling penting adalah inklusivitas sehingga upaya kita dapat digabungkan antara Kementerian Keuangan dan Kesehatan, serta antara negara maju dan berkembang. Hanya dengan begitu, kita dapat secara efektif siap mengatasi pandemi global berikutnya bersama-sama," ujar Sri Mulyani.

Lihat juga video 'Indonesia Bawa 5 Misi Kesehatan di G20':

[Gambas:Video 20detik]



Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin bicara tujuan FIF di halaman berikutnya.

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT