ADVERTISEMENT

Perjuangan Driver Pertama Gojek: Dikeroyok hingga Disandera Opang

Kholida Qothrunnada - detikFinance
Rabu, 22 Jun 2022 10:12 WIB
Driver Gojek 001, Mulyono
Foto: Kholida Qothrunnada
Jakarta -

Kemunculan awal ojek online alias ojol di Indonesia sempat mendapatkan penolakan keras dari para ojek pangkalan (opang). Para opang menganggap, kehadiran ojol itu telah merebut pangsa pasar mereka, sehingga penumpangnya berkurang.

Perseteruan pun kerap terjadi di beberapa daerah. Hal tersebut sering dipicu akibat aksi penganiayaan hingga pengeroyokan oknum opang ke para ojol. Demikian juga yang dialami Mulyono, yang dikenal sebagai driver Gojek pertama.

Mulyono atau Mul ini telah menjadi korban dari adanya penolakan opang atas ojol tersebut. Pria yang sekarang berusia 53 tahun itu mengungkapkan, bahwa dirinya memang kerap menjadi korban penganiayaan para opang.

"Bukan ngalamin lagi, sering. Saya salah satu korban. Bahkan saya di terminal Lebak Bulus dulu, saya selalu ke mana-mana pakai jaket Gojek. Saya ini kan lagi nurunin penumpang nggak ngambil penumpang, nurunin penumpang nih, tahu-tahu saya dilempar pakai batu kena kepala saya. Itu di tahun 2013 akhir mau masuk 2014," ungkap Mul kepada detikcom, ditulis Senin (20/6/2022).

Mul mengaku sering sekali mendapat hal serupa, bahkan ia pernah dikalungi senjata tajam. Hal ini membuat keluarga Mul melarang dirinya untuk menjadi driver Gojek lagi.

"Kalau saya cerita di 2013, di suatu daerah di Tangerang, saya nganter paket tidak diperkenankan masuk dalam satu komplek sama opang. Sampai saya ditabok lah, karena saya pakai jaket Gojek. Gamparan, cacian, sering sekali kita dapet, tonjok beberapa kali sering banget. Yang kejamnya, saya pernah dikalungin senjata tajam. Itu sesuatu hal yang bahkan keluarga, anak, istri itu sampai melarang udah lah berhenti aja di Gojek. Diteruskan bahwasanya, udah balik lagi aja ke opang," ungkap Mul.

Tidak sampai di situ, Ia sempat dikeroyok para opang komplek saat ia hendak mengambil paket orderan yang masuk. Mul yang seorang diri itu kemudian ditendang hingga digampar. Sehingga, pada akhirnya ia harus membatalkan orderannya.

"Bahkan saya pernah di Jababeka, di tahun 2014an kalau waktu itu ketengilan saya. Jelas-jelas ada tulisan spanduk gede Gojek dilarang ambil orderan. Nah, pikiran saya nih Jababeka ke Ciledug kan lumayan nominalnya Rp 125 ribu. Saya ambil, padahal ini orderan paket. Saya nggak tahu, pas mau sampai rumah customer saya udah dikelilingin sama opang sekitar 8 orang. Katanya, disini Gojek dilarang ambil orderan. Saya jawab aja nggak tahu, terus mereka minta cancel. Hp saya mau direbut, tapi saya nggak kasih. Kata mereka sama aja mau paket mau orang, pokoknya Gojek dilarang ambil orderan di wilayah Jabebeka. Itu saya ditendang, digampar, saya dikeroyok. Terus saya diamanin dan ditolongin sama security komplek. Orderan saya cancel. Ya udah," jelasnya.

Mul mengaku ia bahkan juga sempat menjadi target sandera para opang. Kejadian bermula saat dirinya yang ingin mencoba membubarkan para Gojek yang murka, akibat salah satu teman drivernya menjadi korban dari kekerasan para ojol.

"Ini mungkin saya cerita pertama kali, saya belum pernah bilang ke kemana-mana. Bahkan saya pernah di sandera di JCC Senayan awal 2015. Kejadiannya sebenarnya malam, jadi di JCC ada event, ada teman Gojek digebukin sama opang di situ. Nah, waktu itu kan kalau ada temen-teman Gojek yang digebukin pasti langsung tuh 'Hijauin'. Tapi, si teman-teman Gojek ini siangnya nyerang banyak. Kan dulu sistemnya gitu. Kan kita punya grup WA, itu kan kesebar se Jakarta," ungkap Mul.

Padahal niat Mul hanya ingin meredam, karena sejatinya korban sudah dilaporkan ke pihak kepolisian. Jadi, tinggal menunggu diproses. Saat itu, Mul pun merasa bentrok tersebut telah usai, dan berpikir ingin melanjutkan cari orderan.

Namun, sialnya para opang memutuskan membawa Mul untuk disandera terlebih dahulu selama 4 jam, hingga pada akhirnya ia dibebaskan.

"Terus opang ada yang bilang, 'ono noh pentolannya'. Saya disandera, digamparin, saya disandera di belakang pangkalan opang di situ cukup lama 4 jam di sana. Saya ditanya, yang backup Gojek dari mana, saya bilang dari Paspampres. Saya bilang ke opang, kan Bapak tahu justru saya mau bubarin teman-teman driver jangan main hakim sendiri, harusnya terima kasih sama saya. Udah saya jelasin semuanya, tapi mereka nggak terima, Dan suruh manggil komandan saya. Mereka ngobrol akhirnya, jam 8 malam saya baru bisa pulang," katanya.

Lihat juga video 'Ekosistem Gojek Membantu Pemulihan Ekonomi di Tengah Pandemi':

[Gambas:Video 20detik]



(eds/eds)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT