ADVERTISEMENT

Wawancara Khusus Driver Pertama Gojek

Pertempuran Mulyono, 'Pahlawan Cilik' di Balik Decacorn Pertama RI

Kholida Qothrunnada - detikFinance
Rabu, 22 Jun 2022 09:30 WIB
Driver Gojek 001, Mulyono
Foto: Kholida Qothrunnada
Jakarta -

Pada tahun 2010 nama Gojek belum dikenal oleh siapapun. Startup ride-hailing pertama di Indonesia itu bahkan harus ditolak sana sini karena keberadaannya yang dirasa mengancam eksistensi ojek pangkalan.

Berselang 20 tahun kemudian, startup yang didirikan oleh Nadiem Makarim tersebut kini telah menjelma menjadi sebuah decacorn. Decacorn adalah istilah yang diberikan kepada perusahaan rintisan digital dengan valuasi lebih dari US$ 10 miliar atau sekitar Rp 145 triliun.

Sosok Mulyono menjadi salah satu pahlawan di balik keberhasilan Gojek mencapai posisinya saat ini. Siapa dia?

Dia adalah driver Gojek pertama dengan nomor registrasi Gojek 001. Perjuangan Mulyono sebagai driver pertama Gojek 12 tahun yang lalu membuatnya pantas disebut salah satu 'pahlawan' yang membesarkan Gojek hingga bernilai ratusan triliun rupiah.

Mulyono awalnya adalah seorang ojek pangkalan (opang) di wilayah sekitar Blok M, Jakarta Selatan. Bagi Mulyono, menjadi seorang driver Gojek saat itu sama sekali tidak mudah. Ia sering sekali mendapatkan penolakan, kekerasan fisik, bahkan pernah disandera.

Menjawab rasa penasaran terkait kisahnya, detikcom menyambangi langsung kediaman Mulyono Gojek 001 di daerah Bekasi. Kepada detikcom, Mulyono berbagi cerita perjuangannya di masa awal menjadi driver Gojek, kedekatannya dengan Nadiem Makarim, dan guyuran saham GoTo yang diterimanya. Berikut wawancara detikcom dengan Mulyono, sang driver Gojek 001.

Driver Gojek 001, MulyonoDriver Gojek 001, Mulyono Foto: Kholida Qothrunnada

Boleh cerita awal perkenalan Bapak dengan Gojek? Saat itu tahu infonya dari mana atau siapa yang ajak? Katanya sebelum di Gojek, Bapak jadi ojek pangkalan dulu?

Basic saya emang ojek pangkalan (opang), di seputaran Blok M. Tahun 2010, waktu itu saya dapat info bahwasanya ada ojek yang melalui call center. Nah, saya tertarik dapat info tersebut. Ada temen satu pangkalan ngasih informasi. Tuh kalau mau ngelamar, ada ojek kita dicariin orderan melalui call center. Teman, yuk daftar yuk. Teman-teman saya ajak daftar nggak ada yang respon.

Terus saya datangin tuh kantornya, di belakang pasar Mayestik waktu itu kantornya di Jalan Kerinci. Saya cari sendiri alamatnya terus ketemu. Pasa nyampai lokasi kantornya itu kan nggak ada plang nama Gojek, nggak ada. Sempet ragu juga, ini serius kantor? Kantornya ya emang seluas pekarangan rumah saya. Bentuknya bekas garasi mobil, jadi kecil banget. Akhirnya, saya kepalang tanggung. Saya coba masuk, saya ketok pintunya. Saya tanya, bener ini kantor Gojek? Saya mau daftar jadi driver.

Nah, waktu itu syaratnya mudah banget. Fotokopi KTP, SIM udah. Terus setelah itu, satu Minggu kemudian kita dipanggil. Kita di training habis itu, bagaimana tata cara pengambilan order, tata cara menghadapi customer, melayani customer. Dan ruangan trainingnya itu cuman muat 3 orang. Hahaha kecil banget.

Setelah di training, yaudah kita jadi mitra Gojek. Saya nggak tahu bahwasanya pendiri Gojek Pak Nadiem. Nah, kebetulan setelah itu hari, selang saya udah aktif, saya ke kantor Gojek, saya ketemu dengan beliau. Saya ngobrol-ngobrol. Nah, ternyata Pak Nadiem ini, ibunya dia sering order ojek pangkalan ke saya. Akhirnya, klop lah dalam artian nyambung.

Saat itu Pak Nadiem sering ngobrol, terus mengajak teman teman opang yang lain. Jadi, saya yang sering nganterin. 'Mul yuk kita nyari pangkalan ojek yang lain'.

Jadi, Pak Nadiem itu sering sosialisasi ke temen-temen opang. Karena program pertamanya Gojek di 2010, memberdayakan waktu luangnya tukang ojek. Karena kami tukang ojek, waktu itu memang waktu luangnya sangat banyak. Karena orderan nggak pasti, dan kedua kita ngantre nunggu giliran. Kita sosialisasi ke temen-temen opang, tapi itu bukan suatu yang mudah.

Pak Mul bisa dicap jadi driver Gojek pertama itu gimana?

Saya sendiri juga tidak tahu, bahwasanya saya driver pertama, untuk registrasi 001 ini saya tidak tahu. Kalau pendaftar awal iya, tapi kalau pendaftar pertama mungkin Gojek yang punya data ya. Karena 001 bukan saya mau, tapi Gojek yang ngasih ke saya nomor Gojek 001.

Kenapa saat itu mau berpindah ke Gojek?

Waktu itu saya kepikiran gini, saya perlu penambahan pendapatan. Kalau saya hanya mengandalkan opang aja, biaya hidup semakin tinggi. Jelas, saya harus punya pendapatan tambahan. Nah, dengan saya gabung di Gojek, itu penambahannya cukup baik. Saya ada penambahan income.

Dan saya ini orangnya penasaran. Apa sih ini Gojek ini? Bagaimana sih? Awalnya ya hanya ingin tahu, sistem kerjanya, pendapatanya berapa, dan mau cari penambahan penghasilan. Itu sih.

Cerita dong perjuangan saat jadi driver Gojek di masa-masa awal. Berapa pendapatan per harinya saat itu?

Awal-awal Gojek berdiri itu, sesuatu yang sulit, nggak mudah. Gojek sendiri emang bener-bener mulai dari nol. Jadi kami di 2010, 20 mitra pertama ini, setiap kita ke mana-mana dibekalin brosur Gojek, kartu nama Gojek terus kita bagi-bagiin ke teman-teman, ke customer yang kita anterin gitu. Karena Gojek sendiri belum punya marketing, yang bisa membantu. Ya marketingnya kita-kita ini driver.

Pak Nadiem juga ikut turun langsung ke lapangan?

Pak Nadiem nggak setiap hari ikut bagiin brosur, karena pada saat itu beliau masih sibuk kuliahnya belum kelar. Jadi, sambil beliau menyelesaikan kuliahnya, sambil bantu gimana Gojek itu bisa berkembang.

Dan tantangan itu luar biasa, bukan suatu yang mudah. Kita ngasih informasi ke temen-temen opang ini, didengerin aja udah Alhamdulillah. Kadang-kadang kita ngasih brosur, brosurnya aja disobek depan mata kita. Mereka nggak mau, kasarannya mereka menganggap 'udah dah lo jangan nipu-nipu'. Itu dari 2010-2013 begitu. Bahkan sesuatu hal yang kadang kita terima itu, cacian, makian. Setiap kita menjalankan ngasih informasi Gojek, ya itu yang kita terima.

Respons Pak Nadiem ke driver gimana waktu itu?

Pak Nadiem itu selalu ngasih support ke kita. Ayo terus jangan patah semangat. Dan waktu itu kami dan teman-teman di angkatan 2010 ini, emang nggak banyak. Angka pertama kita itu 20 mitra. Waktu itu kami tetap solid, dan saling bantu membantu bagaimana caranya Gojek bertahan dan bisa berkembang. Itu yang selalu kita ingat dari Pak Nadiem, dan tantangan di luaran tetap kita hadapi.

Bahkan, kalau saya cerita di 2013, di suatu daerah di Tangerang, saya nganter paket tidak diperkenankan masuk dalam satu komplek sama opang. Sampai saya ditabok lah, karena saya pakai jaket Gojek. Gamparan, cacian, sering sekali kita dapet, tonjok beberapa kali sering banget. Yang kejamnya, saya pernah dikalungin senjata tajam. Itu sesuatu hal yang bahkan keluarga, anak, istri itu sampai melarang udah lah berhenti aja di Gojek. Diteruskan bahwasanya, udah balik lagi aja ke opang.

Kenapa tetap mau jadi mitra Gojek?

Saat itu saya berprinsip dan berpedoman kalau setiap pekerjaan bahwasanya mengandung risiko. Tapi, selama kita di jalan yang benar kita pasti selalu dilindungi. Sejak 2013, saya fokus ke Gojek nggak di opang lagi. Karena saat itu orderan udah banyak, jadi kita udah nggak sempat ngopang.

Tapi, tetap kita nongkrongnya di pangkalan kita nih, jadi kita nongkrong sama temen-teman kalau ada orderan kita ditelepon. Waktu itu kan, tata cara Gojek ngasih orderan ke kita ini, kita di telepon sama call center 'Selamat siang Pak, sore, malam, bisa tolong ambil orderan ini.'

Kalau kita bilang 'bisa' ya udah, setelah kita bilang siap bisa ambil orderan beberapa saat satu menit kemudian, ada SMS masuk. SMS alamat penjemputan dan alamat pengantaran. Tapi, kala kita bilang ke call center 'mohon maaf saya hari ini libur', ya udah call center akan menutup dengan 'Terima kasih pak, kita carikan driver yang lain'. Itu bahasa baku temen-teman di call center. Itu kayak gitu tahun 2010 sampai 2014 awal.

Di pangkalan ojek yang biasa nongkrong itu, cuma saya sendiri. Temen-temen nggak ada. Jadi, setelah saya jalan 2 tahun, ada teman 1 pangkalan 2 orang bilang 'Saya ikut dong', baru habis itu kita bantu daftarin.

Mangkalnya di daerah mana tuh?

Itu masih di Blok M, karena pada saat itu di situ untuk orderan Gojek lumayan ramai.

Simak juga video 'Ekosistem Gojek Membantu Pemulihan Ekonomi di Tengah Pandemi':

[Gambas:Video 20detik]



ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT