ADVERTISEMENT

Omzet PKL Dulu Rp 60 Ribu/Hari, Mangkal di Kolong Proyek LRT Jadi Rp 500 Ribu

Kholida Qothrunnada - detikFinance
Rabu, 22 Jun 2022 16:07 WIB
PKL di Kolong Proyek LRT/Kholida Qothrunnada
Foto: PKL di Kolong Proyek LRT/Kholida Qothrunnada
Jakarta -

Adanya pembangunan Light Rail Transit (LRT) Jakarta-Bogor-Depok-Bekasi (Jabodebek), ternyata menjadi berkah tersendiri bagi sejumlah pedagang di sekitar. Omzet pedagang pun meroket karena ada proyek ini.

Berdasarkan pantauan detikcom, di area Stasiun LRT Cawang dan Stasiun LRT misalnya, kita akan melihat ada sejumlah penjual kopi, minuman, hingga jajanan ringan di sekitarnya.

Menariknya, pembangunan proyek LRT tersebut menjadi berkah tersendiri bagi sejumlah pedagang kaki lima itu. Hal itu juga yang tengah dialami oleh pria berusia 62 tahun bernama Ridi.

Ridi merupakan pedagang kaki lima keliling, yang kini mangkal di dalam area pembangunan proyek Stasiun LRT Cawang. Ia mengaku sudah berjualan di situ sejak 2 tahun lalu.

"Saya mangkal di sini dari 2 tahun lalu, pas ada pembangunan LRT itu. Sebelum mangkal di sini, saya mah jualan keliling. Di sini saya jualannya kopi, minuman, sama kadang bikin gorengan juga," kata Ridi kepada detikcom di dalam area proyek Stasiun LRT Cawang, Selasa (22/6/2022).

Ridi mulai menjajakan dagangannya itu dari pukul 07.00 pagi hingga 18.00 WIB sore. Kebetulan, ia juga tinggal tak jauh dari area proyek. Ketika ditanya omzet, Ridi pun mengungkapkan bahwa sejak berlapak di sana, omzetnya naik berkali-kali lipat.

"Kalau omzet kan itu nasib-nasiban dan nggak nentu juga. Kalau pas saya jadi pedagang keliling, sehari paling cuma Rp 60 ibu. Apalagi kan saya jalan kaki, keliling di daerah Cawang. Saya mulai keliling dari jam 5 subuh sampai jam 10 pagi, dapat segitu. Dan di sini seharinya itu bisa sampai Rp 500 ribu. Walaupun, modalnya lebih besar lagi," katanya.

Ridi mengatakan awal mula ia bisa buka lapak di sana adalah karena diberitahu oleh salah satu kenalannya.

"Saya kan keliling tuh jualan. Kan sering ngobrol-ngobrol sama orang. Terus ada tuh satu mandor kenalan saya yang bilang, kalau nanti di sana bakal ada proyek LRT gitu. Bisa jualan di sana juga. Ya sudah, dari situ saya buka lapak deh di sini," ujarnya.

Setelah proyek pembangunan Stasiun LRT rampung, ia mengaku akan berkeliling lagi.

"Kalau selesai ya kembali sengsara lagi. Bakal keliling.. ya semoga aja ada rezeki lah," curhatnya.

Sama dengan Ridi, momen ini juga yang dirasakan oleh pedagang bernama Tutin (43) yang membuka lapak di area Stasiun LRT Ciliwung. Tutin mengaku sudah 10 tahun menjadi pedagang kopi dan minuman dan omzet terbesar yang ia dapatkan adalah ketika mangkal di area proyek pembangunan LRT.

"Gue liat ada pembangunan, makanya mangkal di sini aja deh. 10 tahun gue jadi pedagang beginian ya paling banyak di sini Rp 500 ribu. Per hari paling rata-rata Rp 300 ribuan mah dapet lah.

Ibu 4 anak berlogat Betawi itu berjualan dari jam 6 sampai jam 5 sore. Ia mengaku, dulu ketika berkeliling ia hanya bisa mendapatkan omzet Rp 100 ribu paling banyak.

"Alhamdulillah mangkal di sekitar proyek LRT lumayan gede. Dulu mah nggak dapet segitu, sehari paling banyak Rp 100 ribu doang," ungkapnya.



Simak Video "Dirut KAI Blak-blakan LRT Jabodebek Jadi Beban, Desain Nggak Benar"
[Gambas:Video 20detik]
(zlf/zlf)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT