Sri Lanka Bangkrut!

Anisa Indraini - detikFinance
Kamis, 23 Jun 2022 11:16 WIB
People gather at the main bus stand to catch a bus before curfew starts, after a clash between anti-government demonstrators and Sri Lankas ruling party supporters, amid the countrys economic crisis, in Colombo, Sri Lanka, May 12, 2022. REUTERS/Dinuka Liyanawatte
Potret Sri Lanka Bangkrut (Foto: REUTERS/DINUKA LIYANAWATTE)
Jakarta -

Sri Lanka bangkrut. Ekonomi negara itu benar-benar runtuh dan kesepakatan dengan Dana Moneter Internasional (IMF) adalah jalan satu-satunya untuk bangkit.

Perdana Menteri Sri Lanka Ranil Wickremesinghe mengatakan negara Asia Selatan itu menghadapi situasi yang jauh lebih serius dari sekadar kekurangan bahan bakar, gas, listrik dan makanan.

"Kami sekarang melihat tanda-tanda kemungkinan jatuh ke titik terendah," kata Wickremesinghe dikutip dari Bloomberg, Kamis (23/6/2022).

Analisis suram muncul ketika pihak berwenang mengadakan pembicaraan dengan pemberi pinjaman yang berbasis di Washington untuk kesepakatan dana segar bagi negara yang bangkrut. Sri Lanka membutuhkan US$ 6 miliar dalam beberapa bulan mendatang untuk menopang cadangannya, membayar tagihan impor yang membengkak dan menstabilkan mata uangnya.

Wickremesinghe menyebut Sri Lanka telah menyelesaikan diskusi awal dengan IMF dan bertukar pikiran tentang keuangan publik, keberlanjutan utang, sektor perbankan dan jaminan sosial.

"Kami bermaksud untuk masuk ke dalam kesepakatan tingkat resmi dengan IMF pada akhir Juli," tuturnya.

Pihak berwenang juga berencana untuk mengadakan konferensi bantuan kredit dengan negara-negara sahabat termasuk India, Jepang dan China untuk bantuan lebih lanjut.

Sri Lanka bangkrut setelah gagal menghentikan krisis ekonomi terburuk yang dihadapinya dalam sejarah kemerdekaannya. Kekurangan makanan, bahan bakar, dan kebutuhan pokok yang berkepanjangan berisiko mengintensifkan protes dan dapat menghambat stabilitas politik lebih lanjut.

Pada Selasa (21/6), Hamilton Reserve Bank Ltd yang memegang lebih dari US$ 250 juta dari 5,875% Obligasi Negara Internasional Sri Lanka yang jatuh tempo 25 Juli, mengajukan gugatan di pengadilan federal New York untuk meminta pembayaran penuh pokok dan bunga setelah negara itu gagal bayar bulan lalu.

Lihat juga video 'Perdana Menteri Sri Lanka Mengundurkan Diri':

[Gambas:Video 20detik]



(aid/dna)