Harga Sapi Jeblok hingga 60% Gegara Penyakit Mulut dan Kuku

Ilyas Fadilah - detikFinance
Kamis, 23 Jun 2022 14:45 WIB
Perawatan sapi pmk.
Foto: Yuga Hassani
Jakarta -

Wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) yang menjangkit sapi masih menjadi persoalan hingga sekarang. Terlebih, PMK terjadi menjelang hari raya Idul Adha yang jatuh pada awal Juli 2022.

Ketua Perhimpunan Peternak Sapi dan Kerbau Indonesia (PPSKI), Nanang Purus Subendro menjelaskan harga ternak sapi di daerah wabah PMK anjlok hingga 60%.

"Kalau sapi yang sudah ambruk bisa turun sampai 60%. kalau kondisi masih bagus, turun 20% sampai dengan 30%," Kata ketua PPSKI Nanang saat dihubungi detikcom, Kamis (23/6/2022).

Saat ini terjadi panic selling yang membuat sapi korban PMK banyak dipotong paksa. Beberapa bahkan dikirim ke rumah potong hewan dalam kondisi sapi sudah rubuh sehingga harganya hancur.

Namun, menurut Nanang, kondisi sebaliknya justru terjadi di daerah pemasaran seperti Jabodetabek. Harga sapi mengalami kenaikan dibanding tahun lalu, yaitu antara 10% - 20%.

"Kalau yang tahun lalu Rp 20 juta, sekarang udah 22-23 juta untuk berat sapi yang sama," katanya menabahkan. Kondisi ini disebabkan oleh beberapa faktor, seperti faktor Idul Qurban, distribusi, dan wabah PMK.

Nanang menambahkan, tidak ada keluhan penurunan jumlah penjualan sapi. Kondisi penjualan sapi kurban menjelang Idul Adha masih dalam kondisi bagus. Hanya saja, nanang mengeluhkan sulitnya distribusi karena aturan yang diperketat.

Sementara itu, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Suharyanto menyebut akan terus bekerja bersama pemerintah terkait wabah PMK ini. BNPB akan turun langsung ke lapangan untuk mengecek kondisi.

"Akan ada rapat dan akan turun ke daerah, khususnya daerah merah," kata ketua BNPB Letjen TNI Suharyanto saat menyampaikan keterangan pers virtual di kanal YouTube Sekretariat Presiden, Kamis (23/6/2022).

(hns/hns)