APBN Surplus Lagi! Sampai Mei 2022 Tembus Rp 132 T

Anisa Indraini - detikFinance
Kamis, 23 Jun 2022 18:45 WIB
Menkue Sri Mulyani mengikuti rapat kerja dengan Badan Anggaran DPR RI, Selasa (31/5). Sri Mulyani jelaskan percepatan pembangunan infrastrukur dalam APBN 2023.
Foto: Agung Pambudhy
Jakarta -

Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) kembali mencatatkan surplus pada Mei 2022. Besarannya adalah Rp 132,2 triliun atau 0,74% terhadap produk domestik bruto (PDB).

"Total keseimbangan APBN kita sampai akhir Mei (2022) surplus Rp 132,2 triliun. Bandingkan tahun lalu kita defisit Rp 219,2 triliun. Ini pembalikan yang luar biasa dari kondisi fiskal kita," kata Sri Mulyani dalam konferensi pers APBN KITA Edisi Juni 2022, Kamis (23/6/2022).

Surplus APBN ini berarti pendapatan lebih besar dibanding jumlah pengeluaran pemerintah. Pendapatan negara mencapai Rp 1.070,4 triliun (58% dari target APBN awal) atau tumbuh 47,3%, sedangkan belanja negara mencapai Rp 938,2 triliun (34,6% dari target APBN) atau terkoreksi 0,8%.

Lebih rinci pendapatan negara dari penerimaan pajak mencapai Rp 705,8 triliun atau 55,8% dari target tahun ini, kepabeanan dan cukai Rp 140,3 triliun atau 57,3% dari target, dan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) tembus Rp 224,1 triliun atau 66,8% dari target.

"Pajak tahun lalu sudah tumbuh 3,4%, sekarang tumbuhnya 53,6%. Bea cukai tahun lalu sudah tumbuh 21,6%, tahun ini masih tumbuh lagi 41,3%. PNBP kita tahun lalu juga sudah tumbuh 22,4%, sekarang tumbuh 33,7%. Jadi dari sisi penerimaan memang kita mengalami upside yang cukup signifikan," beber Sri Mulyani.

Untuk belanja negara, terdiri dari belanja Kementerian Lembaga (KL) Rp 319,2 triliun (33,7%), belanja non KL Rp 334,7 triliun (33,5%) dan transfer ke daerah dan dana desa (TKDD) Rp 284,3 triliun (36,9%).

"Belanja ini belum menggambarkan subsidi dan kompensasi (energi). Nanti diperkirakan kita akan menambah hampir mendekati Rp 380 triliun sendiri. Jadi nanti postur kita pendapatan naik Rp 420 triliun estimasinya, belanja juga akan naik sekitar Rp 400 triliun," ungkap Sri Mulyani.

Keseimbangan primer juga surplus Rp 298,9 triliun, berbeda dibandingkan tahun sebelumnya yang defisit sangat besar. Pembiayaan utang turun drastis yaitu 72,5% dibandingkan periode yang sama 2021, SBN neto mencapai Rp 75,3 triliun atau 7,6% dari total Rp 991,3 triliun, dan pinjaman mencapai Rp 15,7 triliun.



Simak Video "Pidato Megawati dan Gerilya Parpol Cari Koalisi"
[Gambas:Video 20detik]
(aid/dna)