ADVERTISEMENT

Starbucks 'Buntung' di Tempat Ini, Warganya Ogah Beli

Ignacio Geordi Oswaldo - detikFinance
Jumat, 24 Jun 2022 19:30 WIB
Setelah 15 tahun berdiri, Starbucks resmi keluar dari Rusia. Penangguhan dari negara tersebut dilakukan pada bulan Maret lalu.
Foto: Picture Alliance via Getty Images
Jakarta -

Di Indonesia, gerai jaringan kopi Starbuck cukup mudah untuk ditemui, terutama di kota-kota besar. Meski harga kopinya yang relatif mahal, namun Starbucks tetap memiliki banyak peminat.

Karenanya sangat jarang gerai Starbucks kosong tanpa pengunjung. Namun ternyata kesuksesan Starbucks ini tidak berlaku di Australia. Di Negeri Kanguru ini, bisnis Starbucks sulit berkembang dan hanya memiliki sedikit gerai.

Padahal masyarakat Australia dikenal memiliki kecintaan yang cukup dalam terhadap kopi. Lantas apa yang jadi penyebab Starbucks kurang laku di Australia?

Melansir dari CNBC, Starbucks pertama kali memasuki pasar kopi Australia pada tahun 2000 dan berkembang cukup pesat di negara tersebut. Bahkan pada tahun 2008 jaringan kopi ini telah membuka hampir 90 gerai di berbagai lokasi.

Namun bukan untung didapat, investasi perusahaan asal Amerika Serikat ini justru malah buntung. Ternyata Starbucks dinilai bergerak terlalu cepat, dan tumbuh lebih cepat dari popularitasnya.

"Ketika diluncurkan, mereka diluncurkan terlalu cepat dan mereka tidak memberi konsumen Australia kesempatan untuk benar-benar mengembangkan selera untuk merek Starbucks," kata Thomas O'Connor, analis riset utama yang mengkhususkan diri dalam industri konsumen di Gartner.

Selain itu, budaya kopi di Australia yang sudah berkembang juga terbukti menjadi tantangan bagi merek kopi asal Amerika yang satu ini. Hal ini terbukti dari bagaimana jaringan kopi tersebut kalah bersaing dari kedai-kedai kopi lokal.

Usut punya usut, kopi yang ditawarkan Starbucks ternyata tidak cocok dengan selera orang Australia. Perusahaan ini menyajikan pilihan kopi yang lebih manis daripada yang disukai orang Australia, semuanya dengan harga lebih mahal daripada kedai kopi lokal.

Karena hal itu dalam tujuh tahun pertama di Australia, Starbucks mengakumulasi kerugian sebesar US$ 105 juta, memaksa perusahaan untuk menutup 61 lokasi. Hanya saja hingga saat ini Starbucks belum menyerah di Australia. Sejak penutupan tahun 2008, perusahaan ini secara perlahan mulai membuka lebih banyak gerai di negeri kanguru tersebut.

(fdl/fdl)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT