ADVERTISEMENT

Dunia Terancam Krisis Pangan, Pupuk Subsidi Bisa Jadi Senjata RI Bertahan

Herdi Alif Al Hikam - detikFinance
Senin, 27 Jun 2022 13:23 WIB
Petani di Maros Sulsel telat memupuk padi karena pupuk subsidi langka (Bakrie-detikcom).
Foto: Petani di Maros Sulsel telat memupuk padi karena pupuk subsidi langka (Bakrie-detikcom).
Jakarta -

Presiden Joko Widodo (Jokowi) pada side event KTT BRICS High Level Dialogue on Global Development, Jumat (24/6) mengatakan bahwa saat ini dunia menghadapi tantangan yang sangat berat, mulai dari tantangan ketahanan pangan, ketahanan energi, dan stabilitas keuangan yang semakin sulit. Pertumbuhan ekonomi dunia tahun ini turun satu persen menjadi 2,6 persen.

Sebagai Presiden G20 dan bagian dari Global Crisis Response Group, Indonesia akan terus berkontribusi untuk mengatasi masalah-masalah ketahanan pangan, energi, dan stabilitas keuangan.

"Kita harus bertindak sekarang agar tidak terjadi dekade pembangunan yang hilang," kata Jokowi.

Terkait tantangan ketahanan pangan dan stabilitas keuangan, pemerintah, sesuai rekomendasi Panja Pupuk Komisi IV, per 1 Juli 2022 rencananya akan melakukan kebijakan redistribusi pupuk bersubsidi.

Subsidi ini akan memfokuskan pada pupuk Urea dan NPK yang selama ini banyak digunakan para petani pada pangan pokok dan komoditas strategis pertanian yang memiliki sensitivitas tinggi terhadap laju inflasi.

Anggota Komisi IV DPR RI Daniel Johan mengatakan, pupuk bersubsidi tetap diberikan kepada petani. Menurutnya, produksi pangan nasional diperkirakan makin stabil seiring dengan kebijakan pemerintah untuk mengamankan pasokan pupuk bersubsidi.

"Apalagi subsidi pupuk adalah bagian dari mekanisme untuk mewujudkan keadilan sosial sesuai amanat konstitusi," jelasnya, Minggu (26/6/2022).

Bersambung ke halaman selanjutnya.

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT