Kinerja Kepabeanan & Cukai Ikut Andil Bikin Surplus Neraca Perdagangan

ADVERTISEMENT

Kinerja Kepabeanan & Cukai Ikut Andil Bikin Surplus Neraca Perdagangan

Yudistira Perdana Imandiar - detikFinance
Rabu, 29 Jun 2022 17:32 WIB
Bea Cukai
Foto: Istimewa
Jakarta -

Berdasarkan Laporan Ekonomi dan Keuangan yang dirilis Badan Kebijakan Fiskal, surplus neraca perdagangan Indonesia bulan Mei 2022 tercatat sebesar US$ 2,9 miliar. Berlanjutnya surplus neraca perdagangan diperkirakan memberi dampak positif pada pertumbuhan PDB (Produk Domestik Bruto) pada Triwulan II 2022.

Direktur Komunikasi dan Bimbingan Pengguna Jasa Direktorat Jenderal Bea Cukai Nirwala Dwi Heryanto mengungkapkan surplus neraca perdagangan dapat dilihat dari kinerja ekspor dan impor yang tumbuh positif secara year on year (yoy).

"Secara kumulatif, neraca perdagangan mencatatkan surplus senilai US$ 19,79 miliar. Realisasi penerimaan kepabeanan dan cukai per 31 Mei 2022 pun tumbuh secara signifikan sebesar 41,26% (yoy) atau mencapai 57,27% dari target APBN 2022," jelas Nirwala dalam keterangan tertulis, Rabu (29/6/2022).

Ia menuturkan capaian tersebut didorong oleh kinerja positif semua komponen penerimaan kepabeanan dan cukai, seperti tren positif Bea Masuk dengan pertumbuhan mencapai 32,46% (yoy), resiliensi penerimaan cukai dengan pertumbuhan cukai hasil tembakau sebesar 41,73% (yoy) dan cukai minuman mengandung etil alkohol (MMEA) sebesar 22,77% (yoy), serta penerimaan Bea Keluar dengan pertumbuhan 54,46% (yoy) dibandingkan periode yang sama tahun 2021.

Tren kinerja positif ini, kata Nirwala, memperkuat upaya pemerintah dalam pemulihan ekonomi nasional yang berkelanjutan seiring kondisi pandemi COVID-19 yang terkendali. Hal itu menurutnya tercermin dari realisasi belanja APBN yang menunjukkan kinerja baik untuk membiayai berbagai macam sektor. Misalnya pada sektor kesehatan, belanja APBN dimanfaatkan untuk klaim pasien senilai Rp 16,2 triliun, insentif tenaga kesehatan senilai Rp 2 triliun, vaksinasi senilai Rp 1,9 triliun, dan penyelenggaraan kesehatan senilai Rp 1,2 triliun.

Selain itu, lanjut Nirwala, belanja APBN juga dimanfaatkan untuk pembiayaan kompensasi BBM, subsidi, dan program Kartu Prakerja dengan realisasi total belanja mencapai Rp 334,7 triliun. Realisasi subsidi pun mengalami kenaikan dibandingkan tahun 2021, hal ini dipengaruhi oleh percepatan pencairan kurang bayar subsidi energi, peningkatan volume penyaluran barang bersubsidi, dan kenaikan ICP (Indonesia Crude Price).

"Sebagai wujud akuntabilitas, pemerintah secara aktif menyosialisasikan pengelolaan atas realisasi kinerja APBN. Kami juga mengapresiasi masyarakat yang ikut berperan mendukung atas pengelolaan APBN," ujar Nirwala.

(akn/hns)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT