ADVERTISEMENT

3 Fakta Inflasi Juni 4,35% Tertinggi Sejak 2017

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Jumat, 01 Jul 2022 20:00 WIB
Gedung Badan Pusat Statistik (BPS)
3 Fakta Inflasi Juni 4,35% Tertinggi Sejak 2017/Foto: Ari Saputra
Jakarta -

Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan inflasi Juni 2022 secara tahunan (year on year/yoy) 4,35%. Kepala BPS Margo Yuwono menyebut ini merupakan inflasi tertinggi sejak Juni 2017.

Berikut tiga fakta inflasi tertinggi sejak 2017:

1. Faktor penyebab inflasi

Inflasi Juni secara bulanan (month to month/mtm) sebesar 0,61%. Inflasi Juni disumbang oleh kenaikan harga cabai merah, cabai rawit, bawang merah, dan telur ayam ras.

Kepala BPS Margo Yuwono menjelaskan lebih lanjut mengenai inflasi Juni berdasarkan komponen. Penyumbang terbesar menurut komponen berasal dari harga bergejolak secara bulanan dengan andil 0,44%.

2. Apakah Sinyal Krisis?

Direktur Riset CORE Indonesia Piter Abdullah mengungkapkan kenaikan inflasi memang sudah diperkirakan mengikuti kenaikan harga komoditas global dan inflasi tinggi di banyak negara.

"Tapi tingkat inflasi saat ini masih sangat aman, masih jauh dari tanda-tanda krisis. Tingkat inflasi masih di kisaran 4%, masih rendah dibandingkan inflasi di negara maju yang sudah di kisaran 8-9%. Apalagi kalau dibandingkan Turki yang sudah hyper inflasi di atas 80%," jelas dia.

Piter menyebutkan meskipun masih rendah, ada potensi inflasi masih akan meningkat tajam ke depan. Hal ini bisa terjadi apabila pemerintah menaikkan harga barang subsidi, Pertalite, LPG 3 kilogram (kg), dan listrik 900 VA.

3. Dampak Untuk Masyarakat

Direktur CELIOS Bhima Yudhistira Adhinegara mengungkapkan inflasi yang tidak wajar pertanda adanya sinyal stagflasi, yakni kondisi kenaikan inflasi tidak dibarengi dengan naiknya kesempatan kerja. Masih ada 11,5 juta orang tenaga kerja yang terdampak pandemi COVID-19, di antaranya korban PHK dan masih mengalami pengurangan jam kerja.

Oleh karena itu, menurut dia sudah waktunya pemerintah lebih serius soal pangan, misalnya menambah alokasi subsidi pupuk karena biaya produksi pangan naik akibat harga pupuk mahal.

Menurut dia pemerintah harus memangkas rantai distribusi yang terlalu panjang karena naiknya harga pangan ternyata tidak untungkan petani, yang untung adalah spekulan atau pedagang besar.

(kil/ara)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT