Defisit APBN 2006 Diprediksi Membengkak Jadi 1,5%
Rabu, 14 Jun 2006 15:10 WIB
Jakarta - Belanja pemerintah pada tahun 2006 diperkirakan meningkat karena banyaknya kebutuhan mendadak. Defisit anggaran pada tahun 2006 pun diproyeksikan meningkat menjadi 1,5 persen.Padahal dalam APBN 2006, angka defisit semula diperkirakan hanya 0,7 persen."Defisit anggaran yang lebih tinggi disebabkan oleh banyak faktor, antara lain carry over dari tahun 2005, peningkatan anggaran untuk pendidikan, subsidi listrik, pembayaran suku bunga dan untuk rekonstruksi Yogyakarta," ujar Menkeu Sri Mulyani.Ia menyampaikan hal tersebut dalam sambutannya dalam pertemuan CGI di Gedung BI, Jalan MH Thamrin, Jakarta, Rabu (14/6/2006).Sri Mulyani mengatakan, yang saat ini menjadi isu adalah tentang pembiayaan untuk menutup defisit tersebut. Ada beberapa sumber seperti dari CGI, non-CGI atau surat utang negara. "Kami rasa angka defisit tersebut masih dibiayai," tegasnya.Ia menjelaskan, dibandingkan dua tahun sebelumnya, belanja pemerintah pusat mengalami perbaikan meskipun masih relatif lebih rendah."Untuk mengatasi hal ini dan mendukung pertumbuhan, kami berusaha untuk mempercepat pengeluaran di awal tahun dan mempercepat penyerapan anggaran sambil menerapkan good governance," jelasnya.Pertumbuhan ekonomi pada kuartal I secara year on year mencapai 4,5 persen. Dan untuk pertumbuhan ekonomi tahun ini diperkirakan lebih rendah dari target yakni 5,7-5,9 persen."Kami mengharapkan pertumbuhan ekonomi kembali akan meningkat pada tahun 2007 menjadi 6-6,5 persen," tambahnya.Sementara inflasi selama lima bulan pertama tahun 2006 berada pada kisaran 2,41 persen atau turun dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang mencapai 3,76 persen. Inflasi secara year on year sebesar 15,74 persen.Sri Mulyani menegaskan, pemerintah tetap akan mempertahankan kebijakan makro ekonomi yang mampu menyerap guncangan dari luar negeri.
(qom/)











































