ADVERTISEMENT

Pandemi Lewat, 'Healing' Bikin Kantong Sekarat

Edward F. Kusuma - detikFinance
Senin, 11 Jul 2022 13:44 WIB
Jakarta -

Sejumlah negara mulai merasakan krisis usai masa pandemi Covid-19. Kenaikan harga minyak mentah dan biaya pangan mengakibatkan krisis biaya hidup. Lalu seperti apa solusinya?

"Jadi belanja masyarakat tidak langsung pulih seperti pandemi di saat bersamaan, harga minyak mentah naik tadi menambah resiko dari perang Ukraina berkelanjutan enggak tahu sampai kapan selesai, harga minyak mentah naik kemudian di satu sisi itu membuat biaya hidup masyarakat menjadi berat lagi pangan naik, harga pupuk naik dan juga ada juga banyak penyesuaian kayak kemarin kita merasakan pertamax naik, elpiji non subsidi naik ke depan," ujar Direktur Celios, Bhima Yuhdistira dalam acara d'Mentor detikcom, Kamis (7/7/2022).

Menurut Bhima, krisis usai masa pandemi sudah diprediksi World Economy Forum. Mereka melihat bahwa di akhir masa pandemi sejumlah negara berkembang akan mengalami krisis biaya hidup.

"Jadi kita sekarang bukan krisis pandemi. Krisis pandemi sudah lewat tetapi sekarang berhadapan dengan krisis biaya hidup, jadi apa-apa mahal. Sudah apa-apa mahal, sebagian enggak ada barangnya itu yang terjadi," kata Bhima.

Sementara dalam kacamata Perencana keuangan Advisor Alliance Group Indonesia, Andy Nugroho mengatakan krisis biaya hidup sudah di depan mata. Indikasi yang paling nyata bisa dilihat dengan naiknya harga barang.

"Dalam kondisi ini ada hal yang dilematis, secara sederhana misalnya kita udah tahu lagi mau ada krisis kelihatan harga-harga udah mulai pada naik. Pasti kita akan bilang mulai lagi kendalikan gaya hidup, jangan mengeluarkan uang belanja untuk hal hal yang enggak kita perlukan," kata Andy.

Sebagai perencana keuangan Andy menyarankan untuk mulai batasi kebiasaan 'healing' di masa krisis. Lebih baik fokus benahi tatanan keuangan dibandingkan mengurusi tata letak foto di sosial media.

"Masalahnya adalah kita lagi euforia dua tahun enggak boleh kemana-mana, terus sekalinya boleh keluar kena resesi lagi. Nah ini ngeremnya lagi lumayan berat, dilematis satu sisi healing-healing dua tahu enggak kemana-mana. Media sosial lama enggak di update jalan-jalan ini kudu di update itu kadang yang bikin dilematis, cuma kembali lagi dan mungkin lebih bijak lagi, Kalau bijak masih kurang, dan lebih dewasa lagi," paparnya.

Andy mengingatkan bagi mereka yang memiliki rencana untuk liburan di masa endemi, coba untuk dipikirkan lebih matang kembali. Jangan sampai ego liburan membuat kantong pundi keuangan jebol apalagi sampai nekat ajukan pinjaman online.

"Coba dipertimbangkan lagi dhe jangan sampai kita bela-belain untuk piknik untuk pergi tapi ternyata kemudian itu malah menggerus cadangan dana kita miliki yang enggak kita harapkan enggak seperti itu dan ada yang jauh lebih penting. Dengan mudahnya kita sekarang pinjol dan pay later lalu diperbolehkan pergi itu udah kalap, sementara di balik itu utang yang harus diperbaiki, nah kalau kita sudah habis dana untuk bayar utang, bagaimana kebutuhan lain yang lebih penting," pungkasnya.

(edo/vys)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT