ADVERTISEMENT

Mimpi RI Genjot Digitalisasi, tapi Akses Internet Masih Melempem

Herdi Alif Al Hikam - detikFinance
Jumat, 15 Jul 2022 10:29 WIB
Close up photo of men using phone and laptop in the office
Menko Perekonomian Airlangga Hartarto/Foto: Dok. Kemenko Perekonomian
Jakarta -

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan saat ini aksesibilitas digital Indonesia masih rendah. Padahal Indonesia ingin mempercepat digitalisasi di berbagai hal, salah satunya di sektor keuangan dan ekonomi.

Airlangga mengatakan ada empat hal yang dibutuhkan agar Indonesia bisa siap menyongsong era digitalisasi. Pemberian literasi, perluasan aksesibilitas, penajaman keterampilan, dan persiapan tenaga kerja digital.

Poin kedua menurutnya menjadi hal yang harus diperhatikan. Pasalnya, baru 70% wilayah di Indonesia yang mendapatkan akses internet. Malah untuk akses internet ke pedalaman dan desa-desa baru 50%. Bahkan, untuk internet 4G, di wilayah 3T, sejauh ini masih ada 75% wilayah yang belum terlayani.

"Aksesibilitas ini penting untuk tingkatkan inklusi digital. Namun saat ini terdapat kesenjangan jangkauan dan kualitas infrastruktur di berbagai daerah. Layanan internet sudah 70%, namun layanan ke pedesaan baru 50%," papar Airlangga dalam acara Festival Keuangan Digital 2022, disiarkan lewat YouTube Bank Indonesia, Jumat (15/7/2022).

"Pemerintah akan upayakan layanan jangkauan berkualitas baik untuk tingkatkan pembangunan sarana dan prasarana agar konektivitas bisa tersambung merata dan adil," ujarnya.

Airlangga juga mengatakan pemerintah akan bekerja sama dengan swasta untuk mengembangkan akses internet di seluruh Indonesia. "Kami juga sadari penguatan kerja sama dan dukungan dari swasta terutama dengan big tech firms akan dilakukan untuk kembangkan aksesibilitas digital Indonesia," kata Airlangga.

Pemerintah akan melakukan literasi digital mendalam di berbagai kota dan kabupaten untuk mendorong inklusifitas digital meningkat.

Pemerintah juga akan mempersiapkan keahlian masyarakat untuk siap menjadi tenaga kerja digital. Akan ada beasiswa khusus untuk meningkatkan keahlian bidang digital di tengah masyarakat. "Kami juga kembangkan keahlian digital dengan sediakan beasiswa digital dengan digital balance scholarship," katanya.

Sejauh ini tenaga kerja yang bekerja di sektor TIK pun masih rendah di Indonesia, hanya 0,8% dari jumlah penduduk di usia produktif. Padahal, ada peningkatan kebutuhan tenaga kerja hingga 20% secara tahunan.

"Tenaga kerja sektor TIK itu lebih rendah dibandingkan sektor lain. Padahal tingginya kebutuhan sektor TIK ini diperkirakan lebih dari 20% lebih banyak dibanding 2020-2021," kata Airlangga.

(hal/ara)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT