ADVERTISEMENT

Selain Pungutan Ekspor, Petani Sawit Juga Minta Bea Keluar Disetop

Achmad Dwi Afriyadi - detikFinance
Senin, 18 Jul 2022 15:37 WIB
Pekerja melakukan bongkar muat kelapa sawit yang akan diolah menjadi minyak kelapa sawit Crude palem Oil (CPO) dan kernel di pabrik kelapa sawit Kertajaya, Malingping, Banten, Selasa (19/6). Dalam sehari pabrik tersebut mampu menghasilkan sekitar 160 ton minyak mentah kelapa sawit. File/detikFoto.
Foto: Jhoni Hutapea
Jakarta -

Pemerintah memutuskan untuk menghapus sementara pungutan ekspor minyak kelapa sawit (crude palm oil/CPO) hingga 31 Agustus 2022. Kebijakan ini diterapkan untuk mempercepat ekspor.

Namun, kebijakan ini belum terasa ke tingkat petani saat ini. Sebagaimana diketahui, harga tandan buah segar (TBS) belakangan anjlok karena industri sulit menyerap sawit petani. Industri sulit menyerap karena pungutan tinggi untuk ekspor.

Ketua Front Perjuangan Masyarakat Sawit Nusantara, Agus Setiadi mengatakan, pihaknya memuji kebijakan pemerintah yang menghapus sementara pungutan ekspor tersebut. Namun, kebijakan itu belum terasa sampai petani.

"Dari hari Sabtu kita perhatikan. Sabtu, Minggu Senin, sampai hari ini ternyata efek daripada pungutan ekpor yang nol rupiah belum terasa di bawah. Mungkin kita juga belum tahu apakah memang birokrasinya masih panjang, untuk rentetan dampaknya masyarakat di bawah, atau memang ada persoalan lain," terangnya, Senin (18/7/2022).

"Ini juga mempertanyakan kenapa pungutan ekspor sudah nol tapi TBS di bawah, di rakyat bawah masih belum ada perubahan yang signifikan," tambahnya.

Selain pungutan ekspor yang nol, ia juga mengusulkan agar bea keluar juga dipangkas untuk mendorong ekspor. Patut diketahui, pungutan ekspor maksimum minyak sawit mentah US$ 200 per ton. Sementara, bea keluar US$ 288 per ton.

"Mestinya begitu, pajak item lain itu diturunkan, kalau nggak dinolkan, diturunkan," katanya.

Tak cuma itu, ia juga meminta agar izin ekspor dipermudah. Sehingga, tidak menyulitkan saat memasok barang ke luar negeri.

"Izin regulasi ekspor juga mesti dipermudah, jangan sampai izinnya dipersulit, masih panjang birokraasinya segala macam, sehingga menyulitkan orang ekspor ke luar," katanya.

Agus sendiri mengungkap, harga TBS anjlok dalam 4 bulan ke belakang. Harga TBS sampai di kisaran Rp 700 hingga Rp 1.000 per kg. Padahal, normalnya di kisaran Rp 2.000 per kg.

Dia memprediksi penghapusan pungutan ekspor mengerek harga TBS ke Rp 2.500 per kg.

"Kita berharap karena ini sudah dinolkan mestinya harga TBS bisa naik sampai Rp 2.500 ke atas," katanya.

(dna/dna)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT