ADVERTISEMENT

Krisis Pangan Mengancam Dunia, RI Harus Apa?

Achmad Dwi Afriyadi - detikFinance
Minggu, 24 Jul 2022 20:00 WIB
Petani membawa karung berisi gabah menggunakan kuda di Persawahan Somba Opu, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, Rabu (18/8/2021). Sebagian besar petani yang menggunakan sistem bagi hasil di daerah tersebut memanfaatkan kuda untuk mengangkut hasil panen karena dinilai lebih hemat biaya serta mampu mengakses area pertanian yang sulit dijangkau. ANTARA FOTO/Abriawan Abhe/foc.
Foto: ANTARA FOTO/ABRIAWAN ABHE
Jakarta -

Perang Rusia dan Ukraina memicu krisis pangan di dunia. Berbagai negara telah merasakan krisis pangan tersebut, salah satunya negara-negara Afrika yang bergantung pada Ukraina.

Krisis pangan juga mesti diwaspadai Indonesia. Lantas, apa yang mesti dilakukan?

Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor (IPB), Rachmat Pambudy mengatakan, saat ini terjadi peningkatan konsumsi beras per kapita per tahun dari 98 kg/tahun menjadi lebih 100 kg per tahun. Menurutnya, perlu dikaji lebih jauh mengenai peningkatan konsumsi ini.

Sementara, Direktur Utama PT Food Station Tjipinang Jaya Pamrihadi Wiraryo mengatakan salah satu dampak gejolak di Ukraina yang perlu diantisipasi oleh Indonesia adalah peralihan konsumsi dari roti atau mi ke beras alias nasi. Sehingga diperkirakan permintaan beras akan meningkat dan harga gabah dan beras berpotensi akan naik.

"Terjadinya kelangkaan gandum di Eropa dapat mengakibatkan terjadinya shifting konsumsi bahan pangan pokok ke beras. Sehingga permintaan beras kepada negara-negara penghasil beras akan meningkat" ujarnya dalam keterangan tertulis, Minggu (24/7/2022).

Pamrihadi menjelaskan, Food Station selaku BUMD DKI Jakarta berkomitmen dan terus berupaya untuk berinovasi dalam ketahanan pangan melalui program intensifikasi dengan melakukan budidaya menggunakan teknologi yang dapat meningkatkan produktivitas panen, yaitu dengan pupuk komsah (kompos dan seresah) dan teknologi pupuk organik cair ExtraGen.

Menurutnya, budidaya dengan metode tersebut dapat menekan penggunaan pupuk kimia, serta pada saat yang sama juga dapat meningkatkan produktivitas hasil pertanian dengan ratio 20-25% per hektarnya.

Selain itu hingga kini, pihaknya sudah melakukan kerjasama contract farming dan budidaya dengan banyak gapoktan dan koperasi di beberapa kota dan kabupaten dengan luas lahan mencapai 8.180 hektar. Adapun dari luas lahan kerjasama terebut diproyeksikan Food Station akan menyerap GKP sebanyak 46.626 ton.

"Ini adalah aksi korporasi yang kami lakukan untuk menjaga ketahanan pangan di DKI Jakarta sekaligus juga untuk mengantisipasi lonjakan peningkatan kebutuhan beras yang diakibatkan oleh shifting pola konsumsi," ujarnya.



Simak Video "Prediksi Jokowi: 800 Juta Orang di Dunia Terancam Kelaparan"
[Gambas:Video 20detik]
(acd/zlf)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT