AS Resmi Resesi, Sri Mulyani Beberkan Potensi Dampaknya ke RI

ADVERTISEMENT

AS Resmi Resesi, Sri Mulyani Beberkan Potensi Dampaknya ke RI

Anisa Indraini - detikFinance
Jumat, 29 Jul 2022 11:53 WIB
Jakarta -

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyatakan saat ini Indonesia dihadapkan oleh berbagai tantangan eksternal. Inflasi dunia yang melonjak ditambah perang Rusia dan Ukraina berdampak pada terjadinya krisis pangan-energi di berbagai negara. Salah satunya resesi yang melanda AS.

Inflasi yang tinggi telah menyebabkan ekonomi di China dan negara Eropa melemah. AS bahkan resmi mengalami resesi teknikal atau pertumbuhan ekonomi negatif dua kuartal berturut-turut dalam tahun yang sama.

Sri Mulyani kemudian membeberkan dampak tersebut ke perekonomian Indonesia. Jika AS dan China sebagai mitra dagang mengalami pelemahan ekonomi, permintaan terhadap ekspor Indonesia bisa menurun.

"Pagi ini Anda membaca berita AS negative growth kuartal II, technically masuk resesi. RRT seminggu yang lalu keluar dengan growth kuartal kedua yang nyaris 0. Apa hubungannya dengan kita lagi? AS, RRT, Eropa adalah negara tujuan ekspor Indonesia. Jadi kalau mereka melemah, permintaan terhadap ekspor turun, harga komoditas juga turun," kata Sri Mulyani, Jumat (29/7/2022).

People wearing face masks walk by an electronic stock board of a securities firm in Tokyo, Monday, Aug. 3, 2020. Asian shares were mixed on Monday, as investors watched surging numbers of new coronavirus cases in the region, including in Japan. (AP Photo/Koji Sasahara)People wearing face masks walk by an electronic stock board of a securities firm in Tokyo, Monday, Aug. 3, 2020. Asian shares were mixed on Monday, as investors watched surging numbers of new coronavirus cases in the region, including in Japan. (AP Photo/Koji Sasahara) Foto: AP/Koji Sasahara

Sri Mulyani bicara itu saat menghadiri Dies Natalis ke-7 PKN STAN sekaligus peresmian Gedung Nusantara PKN STAN. Terkait resesi yang melanda AS ini, Sri Mulyani membeberkan sejumlah potensi dampaknya ke Indonesia, termasuk pengaruh tingginya inflasi.

"Banyak hubungannya. Dengan inflasi itu maka otoritas moneter di berbagai negara melakukan respons kebijakan, mengetatkan likuiditas dan meningkatkan suku bunga. Ini menyebabkan arus modal keluar," jelas Sri Mulyani.

"Kalau seandainya kenaikan suku bunga dan likuiditas cukup kencang, maka pelemahan ekonomi global pasti terjadi," tambahnya.

Meski kondisi Indonesia masih cukup kuat, dilihat dari APBN yang surplus Rp 73,6 triliun per Juni 2022, Sri Mulyani akan tetap waspada terhadap berbagai kemungkinan yang terjadi.

"Kita tidak jumawa. Kita tahu situasi masih akan sangat cair dan dinamis. Berbagai kemungkinan terjadi dengan kenaikan suku bunga, capital outflow terjadi di seluruh negara berkembang dan emerging termasuk Indonesia dan itu bisa mempengaruhi nilai tukar suku bunga dan bahkan inflasi di Indonesia," kata Sri Mulyani.

(aid/eds)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT