ADVERTISEMENT

Wanti-wanti Sri Mulyani soal Imbas Resesi Ekonomi AS ke RI

Anisa Indraini - detikFinance
Jumat, 29 Jul 2022 20:00 WIB
Menkue Sri Mulyani mengikuti rapat kerja dengan Badan Anggaran DPR RI, Selasa (31/5). Sri Mulyani jelaskan percepatan pembangunan infrastrukur dalam APBN 2023.
Foto: Agung Pambudhy: Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati
Jakarta -

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan Amerika Serikat (AS) secara resmi mengalami resesi secara teknikal. Ada sejumlah potensi dampaknya ke Indonesia yang mesti diwaspadai.

Menurut Sri Mulyani dampak resesi AS bisa menurunkan kinerja ekspor Indonesia. Pasalnya negara tersebut merupakan negara mitra dagang.

"Pagi ini Anda membaca berita AS negative growth kuartal II, technically masuk resesi. RRT seminggu yang lalu keluar dengan growth kuartal kedua yang nyaris 0. Apa hubungannya dengan kita lagi? AS, RRT, Eropa adalah negara tujuan ekspor Indonesia. Jadi kalau mereka melemah, permintaan terhadap ekspor turun, harga komoditas juga turun," kata Sri Mulyani saat menghadiri Dies Natalis ke-7 PKN STAN sekaligus meresmikan Gedung Nusantara PKN STAN seperti dilansir dari detikFinance, Jumat (29/7/2022).

Sri Mulyani mengatakan saat ini dunia sedang tidak baik-baik saja karena dihadapkan oleh berbagai tantangan. Inflasi dunia yang melonjak ditambah perang Rusia dan Ukraina berdampak pada terjadinya krisis pangan-energi di berbagai negara.

"Dengan inflasi itu maka otoritas moneter di berbagai negara melakukan respons kebijakan, mengetatkan likuiditas dan meningkatkan suku bunga. Ini menyebabkan arus modal keluar," jelas Sri Mulyani.

"Kalau seandainya kenaikan suku bunga dan likuiditas cukup kencang, maka pelemahan ekonomi global pasti terjadi," tambahnya.

Meski kondisi Indonesia masih cukup kuat, dilihat dari APBN yang surplus Rp 73,6 triliun per Juni 2022, Sri Mulyani akan tetap waspada terhadap berbagai kemungkinan yang terjadi.

"Kita tidak jemawa. Kita tahu situasi masih akan sangat cair dan dinamis. Berbagai kemungkinan terjadi dengan kenaikan suku bunga, capital outflow terjadi di seluruh negara berkembang dan emerging termasuk Indonesia dan itu bisa mempengaruhi nilai tukar suku bunga dan bahkan inflasi di Indonesia," tuturnya.

(aid/hns)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT