ADVERTISEMENT

Dalih-dalih Janet Yellen yang Ngeyel AS Masih Belum Resesi

Shafira Cendra Arini - detikFinance
Senin, 01 Agu 2022 08:00 WIB
Janet Yellen dipastikan menjadi menteri keuangan perempuan pertama AS
Foto: BBC World
Jakarta -

Menteri Keuangan AS Janet Yellen tetap bersikeras menolak gagasan bahwa negaranya telah memasuki masa resesi. Menurutnya, perlambatan pertumbuhan ekonomi yang terjadi saat ini adalah sebuah proses demi menjinakkan inflasi.

"Kami memang melihat perlambatan pertumbuhan yang signifikan. Tetapi resesi yang sebenarnya adalah pelemahan ekonomi yang luas. Bukan itu yang kita lihat sekarang," kata Yellen pada konferensi pers Kamis lalu, dilansir melalui Bloomberg pada Senin (01/08/2022).

Yellen juga tetap optimistis terhadap perjuangan Federal Reserve akan dapat memenuhi tujuannya menurunkan inflasi tanpa merugikan pasar tenaga kerja AS, yang saat ini masih berada di level 3,6%.

"Saya percaya, ada jalan untuk menurunkan inflasi sambil mempertahankan pasar tenaga kerja yang kuat," kata Yellen.

"Itu bukan kepastian yang bisa dilakukan, tapi saya percaya ada jalan untuk mencapai itu," ucapnya.

Yellen sendiri telah berulang kali menekankan pada kejadian-kejadian positif, yang merujuk pada penciptaan lapangan kerja yang berkelanjutan, keuangan rumah tangga yang kuat, keuntungan dalam belanja konsumen dan pertumbuhan bisnis dalam menampik persoalan resesi ini.

"Pekerjaan naik 1,1 juta pada kuartal kedua, kontras dengan rata-rata hilangnya (pekerjaan) yakni 240.000 dalam tiga bulan pertama dari resesi terakhir," katanya.

Di sisi lain, ia mengemukakan hal tersebut beberapa jam setelah data menunjukkan ekonomi AS menyusut secara berturut-turut dalam dua kuartal, karena peningkatan suku bunga memperlambat investasi bisnis dan permintaan perumahan.

"Kita perlu melihat perlambatan," kata Yellen.

"Pasar tenaga kerja sangat ketat, dan mungkin menjadi sumber beberapa tekanan inflasi," tambahnya.

Yellen juga menekankan, peningkatan biaya makanan dan energi juga memberikan kontribusi yang besar bagi terjadinya inflasi di seluruh dunia, yang didorong oleh perang di Ukraina.

Debat Resesi

Data mengenai perekonomian AS yang terlihat pada Kamis lalu memicu perdebatan mengenai apakah AS telah tergelincir ke dalam resesi atau belum. Padahal selama dua kuartal berturut-turut ekonomi AS telah mengalami kontraksi yang menunjukkan terjadi resesi secara teknis. Gedung Putih pun berdalih dengan menekankan pada pertumbuhan jumlah pekerjaan dan belanja konsumen.

"Menurunkan inflasi adalah prioritas utama bagi pemerintahan. Kenaikan harga konsumen kemungkinan akan turun di hari-hari mendatang," Ujar Yellen.

Yellen juga mengatakan, dirinya mendukung langkah yang diambil oleh bank sentral. The Fed secara dramatis telah mengubah kebijakan moneter tahun ini, menaikkan suku bunga acuan sebesar 2,25 poin persentase sejak Maret.

Lebih lanjut, The Fed juga menerapkan kenaikan 75 basis poin pada hari Rabu, ketika Jerome Powell mengatakan bahwa jalan ke depan untuk mengalahkan inflasi dan menghindari resesi semakin menyempit.

Di sisi lain Janet Yellen mengakui, awan gelap tidak hanya terlihat di AS, tetapi juga menimpa ekonomi global. Nilai dolar AS yang menguat, didorong oleh kenaikan inflasi, membuat hidup di banyak pasar negara berkembang menjadi lebih sulit.

"Saya khawatir tentang prospek global," kata Yellen.

"Dolar yang kuat menciptakan tekanan bagi beberapa negara tersebut pada ekonomi mereka, terutama ketika ada utang dalam mata uang dolar yang menjadi lebih sulit untuk dilunasi," tambahnya

Dirinya merujuk pada penurunan peringkat yang terus terjadi terhadap prospek ekonomi global IMF tahun ini. Meski demikian, ia menolak gagasan bahwa arus modal global yang ditarik ke AS oleh suku bunga yang lebih tinggi telah mencapai titik umpan balik negatif. Di mana pelarian modal tersebut menurunkan prospek pertumbuhan ekonomi di negara-negara berkembang, sehingga menyebabkan penurunan jumlah modal yang masuk.

"Saya tidak melihat itu terjadi pada saat ini," kata Yellen.

(eds/eds)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT