Ekonomi AS Minus Dua Kuartal, Masuk Resesi

ADVERTISEMENT

Ekonomi AS Minus Dua Kuartal, Masuk Resesi

tim detikcom - detikFinance
Kamis, 28 Jul 2022 20:23 WIB
The U.S. Capitol is seen between flags placed on the National Mall ahead of the inauguration of President-elect Joe Biden and Vice President-elect Kamala Harris, Monday, Jan. 18, 2021, in Washington.
Foto: AP/Alex Brandon
Jakarta -

Ekonomi Amerika Serikat (AS) kuartal II 2022 tercatat minus 0,9%. Dikutip dari npr.org disebutkan ini merupakan kontraksi yang terjadi selama dua kuartal berturut-turut. Pada kuartal I 2022 produk domestik bruto (PDB) minus hingga 1,4%.

Dalam laporan npr.org disebutkan negatifnya pertumbuhan ekonomi sebuah negara dalam dua kuartal sering dianggap sebagai resesi. Namun, pemerintah AS menolak disebut sebagai resesi melainkan hanya perlambatan.

Gedung Putih menampik kondisi ekonomi ini masuk ke dalam jurang resesi. Menteri Keuangan AS Janet Yellen sebelumnya dalam NBC's Meet the Press menyebut meskipun dua kuartal berturut-turut ekonomi AS belum masuk ke dalam resesi.

"Ketika anda bisa membuka 400 ribu pekerjaan baru dalam satu bulan, itu bukan resesi," ujar dia, dikutip dari NPR, Kamis (28/7/2022).

Kekhawatiran resesi ini terjadi ketika bank sentral AS The Federal Reserve (Fed) terus mengerek bunga acuan secara agresif untuk melawan inflasi yang gila-gilaan.

Namun data-data ekonomi yang dirilis pemerintah sangat beragam. Seperti jumlah tenaga kerja yang meningkat. "Ini bukan ressi, resesi adalah melemahnya ekonomi secara luas, kami tak melihatnya sekarang," jelas dia.

Yellen menggunakan acuan belanja masyarakat yang tetap kuat dan kualitas kredit yang masih positif.

NBER menyebutkan resesi adalah penurunan kegiatan ekonomi secara signifikan dan tersebar di seluruh wilayah ekonomi serta berlangsung dalam beberapa bulan.

Lapangan kerja merupakan salah satu indikator yang dihitung. Pada Juni, angka pengangguran di AS tercatat stabil pada level 3,6% dan mendekati level terendah sebelum pandemi dan telah terjadi peningkatan jumlah pekerja hingga 372 ribu orang.

Saat ini ekonomi AS memang melambat, harga naik gila-gilaan, pasar perumahan mulai lesu karena naiknya suku bunga acuan.

Dikutip dari CNBC disebutkan Kepala Ekonom Moody's Analytics Mark Zandi mengungkapkan kondisi ini belum resesi. "Tapi yang jelas pertumbuhan ekonomi lambat," jelas dia.

Kontraksi ekonomi ini terjadi dari berbagai faktor seperti menurunnya investasi pada perumahan dan non perumahan hingga belanja pemerintah federal dan negara bagian.

Kemudian belanja konsumen yang diukur melalui pengeluaran pribadi hanya naik 1%. Kemudian belanja jasa naik 4,1% tapi diimbangi oleh penurunan konsumsi barang tak tahan lama sebesar 5,5% dan barang tahan lama 2,6%.

Dia menyebut inflasi merupakan masalah utama dari perekonomian AS. Angka inflasi yang menyentuh 8,2% meleset dari perkiraan banyak ekonom.

(dna/dna)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT