ADVERTISEMENT

Pendaftaran Driver Ojol Melonjak Gara-gara Biaya Hidup Makin Mahal

Anisa Indraini - detikFinance
Rabu, 03 Agu 2022 08:50 WIB
ojol
Ilustrasi/Foto: Tim Infografis: Luthfy Syahban
Jakarta -

Layanan transportasi online Uber Technologies Inc mencatat jumlah pengemudi telah mencapai titik tertinggi sepanjang masa. Kekhawatiran tentang meningkatnya biaya hidup membuat orang ingin menemukan sumber penghasilan baru.

CEO Uber Dara Khosrowshahi mengatakan jumlah pengemudi saat ini hampir mencapai 5 juta orang untuk mengambil penumpang atau melakukan pengiriman makanan dan minuman. Jumlah itu 31% lebih banyak dari tahun lalu.

Sebelumnya, selama pandemi COVID-19 Uber telah kekurangan pengemudi hingga menyebabkan waktu tunggu lebih lama bagi pelanggan. Harga bensin yang tinggi juga mempersulit untuk mendapatkan uang di platform.

Saat ini, minat menjadi pengemudi di perusahaan itu meningkat meskipun biaya tersebut. "Itu benar, lebih banyak orang mendapatkan penghasilan di Uber hari ini daripada sebelum pandemi," kata Khosrowshahi dikutip dari BBC, Rabu (3/8/2022).

Baru-baru ini Uber meluncurkan perubahan lain salah satunya yakni memungkinkan pengemudi melihat berapa banyak yang akan mereka hasilkan sebelum setuju untuk ambil orderan. Hal ini bertujuan membuat platform mereka lebih menarik bagi pengemudi.

"Daripada hanya mengandalkan insentif finansial, tujuan kami adalah meningkatkan pengalaman pengemudi secara keseluruhan," tutur Khosrowshahi.

Permintaan yang lebih tinggi saat jumlah pengemudi anjlok ketika pandemi COVID-19 juga menarik minat pengemudi lagi. Uber mengatakan ada 1,87 miliar perjalanan di platform pada periode April-Juni 2022, rata-rata sekitar 21 juta per hari atau naik 24% dari tahun lalu dan 12% lebih banyak dari 2019.

Kenaikan permintaan membantu mendorong pemesanan naik 33% menjadi US$ 29,1 miliar. Pendapatan meningkat lebih dari dua kali lipat menjadi US$ 8,1 miliar, meskipun beberapa di antaranya disebabkan oleh perubahan cara perusahaan memperhitungkan bisnisnya di Inggris.

Meskipun untung, perusahaan kehilangan US$ 2,6 miliar. Lebih dari setengahnya dikarenakan penurunan nilai sahamnya di perusahaan luar negeri seperti Zomato, Grab, dan Aurora.

Saham Uber melonjak lebih dari 13% setelah hasil yang lebih baik dari yang diharapkan. Analis di Wedbush Securities Dan Ives mengatakan angka tersebut menunjukkan jalan bagi Uber menjadi menguntungkan, meskipun ada tekanan inflasi dan kekurangan pengemudi yang masih ada di beberapa kota.

"Singkatnya, meskipun harga berbagi perjalanan naik di seluruh AS/Eropa, jelas konsumen masih beralih ke platform Uber terutama karena perjalanan, ke kantor, dan tren pasca pandemi lainnya berlangsung secara global. Dengan begitu Uber siap mendapatkan keuntungan hingga 2023," kata Ives.

(aid/eds)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT