ADVERTISEMENT

Usai Corona, Muncul 'Hantu' Baru Gentayangi Ekonomi RI

Herdi Alif Al Hikam - detikFinance
Selasa, 02 Agu 2022 14:56 WIB
Pertumbuhan ekonomi RI di kuartal II-2021 diramal tembus 7%. BI menyebut hal ini karena pemulihan di sektor pendukung turut mendorong ekonomi nasional.
Foto: Agung Pambudhy
Jakarta -

Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara menyatakan ekonomi Indonesia mendapatkan ancaman baru. Bila selama dua tahun ke belakang ekonomi diancam wabah pandemi COVID-19, ke depannya bakal muncul ancaman baru.

Masalah yang jadi ancaman adalah meningkatnya inflasi di banyak negara, khususnya di negara besar yang kapasitas ekonominya besar. Suahasil menjelaskan inflasi yang tinggi akan berbuah pada pengetatan kebijakan moneter, misalnya kenaikan suku bunga.

Misalnya saja di Amerika Serikat, inflasi sudah menyentuh angka 9,1%. Mau tak mau Bank Sentral Federal Reserve pun meningkatkan suku bunga acuan.

"Virus tak terlalu intens lagi saat ini, sementara kondisi ekonomi global bergerak. Bergerak ke mana? Ke arah situasi di mana inflasi meningkat di berbagai belahan dunia. Di Amerika inflasi sekarang 9,1%, itu bukan sesuatu yang simple, bahkan sangat jarang terjadi. Ini akan timbulkan respons kebijakan," papar Suahasil dalam acara Mid Year Economic Outlook Bisnis Indonesia, Selasa (2/8/2022).

Apa yang terjadi kalau suku bunga meningkat? Suahasil menjelaskan maka arus modal asing akan bergerak ke luar negara berkembang menuju Amerika Serikat. Hal ini juga terjadi bagi Indonesia.

Indonesia akan mengalami tekanan karena kehilangan investasi. Bukan itu saja, arus modal yang keluar dapat melemahkan nilai tukar mata uang Rupiah.

"Salah satu responsnya kan adalah peningkatan suku bunga. Kalau ada peningkatan suku bunga maka capital (modal) akan bergerak ke Amerika. Negara emerging market macam Indonesia yang kena dampaknya, maka Indonesia akan alami tekanan, tekanan dari capital yang bergerak," kata Suahasil.

Dampaknya tidak sampai di situ saja, menurut Menko Perekonomian Airlangga Hartarto kenaikan suku bunga bank sentral di berbagai negara dapat membuat Indonesia makin mahal untuk berutang.

"Dengan kenaikan suku bunga The Fed, ini akan meningkatkan cost of fund untuk kita terbitkan bond atau sukuk, biayanya akan meningkat. Ini harus dijaga," kata Airlangga dalam acara yang sama.

Namun, Airlangga menilai Indonesia mendapatkan berkah dari kenaikan harga komoditas. Maka dari itu pendapatan negara bertambah. Pendapatan yang makin besar ini dapat digunakan untuk pembiayaan berbagai hal dan bukan tidak mungkin menahan utang.



Simak Video "Sinyal Sri Mulyani soal Dunia Akan Resesi"
[Gambas:Video 20detik]
(hal/das)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT