ADVERTISEMENT

AS Disebut Sudah Resesi, Semua Gara-gara The Fed

Shafira Cendra Arini - detikFinance
Jumat, 05 Agu 2022 09:54 WIB
U.S. President Donald Trump announces Jerome Powell as his nominee to become chairman of the U.S. Federal Reserve in the Rose Garden of the White House in Washington, U.S., November 2, 2017. REUTERS/Carlos Barria
Gubernur The Fed Jerome Powell/Foto: Reuters
Jakarta -

Aksi bank sentral Amerika Serikat (AS), Federal Reserve (The Fed) dalam menjinakkan inflasi dinilai lambat. Menurut mantan pejabat The Fed New York, Bill Dudley, bank sentral tidak memiliki banyak pilihan selain menaikkan suku bunga secara drastis.

"Mereka berjalan sangat lambat. Mereka terlambat dan itu berarti mereka harus berbuat lebih banyak, dan itu meningkatkan risiko resesi. Saya pikir resesi sangat mungkin terjadi, dan saya akan sangat, sangat terkejut jika mereka menghindari resesi," kata Dudley, mantan presiden Federal Reserve New York dilansir CNN, Jumat (5/8/2022).

Sementara itu, kekhawatiran terhadap resesi meningkat setelah data pemerintah pekan lalu menunjukkan ekonomi AS mengalami kontraksi pada musim semi dalam kuartal II secara berturut-turut.

Meskipun Dudley mengakui ekonomi AS telah melambat, dia tidak percaya hal itu cukup untuk memenuhi syarat sebagai resesi. "Itu tidak cukup luas atau dalam. Apa yang telah kita lihat sampai saat ini tidak cukup dengan sendirinya untuk menjadi resesi," tuturnya.

Namun jika ekonomi terus melemah akhir tahun ini, Dudley mengatakan mungkin Biro Riset Ekonomi Nasional akan menyatakan bahwa resesi memang dimulai awal tahun .

"Hampir pasti akan ada resesi besar-besaran. Jika kita belum dalam resesi, saya pikir kita akan berada di sana dalam 12 bulan ke depan," tambahnya.

Di sisi lain, Dudley memperkirakan resesi yang mengancam berada pada level ringan, karena neraca perusahaan dan rumah tangga berada dalam kondisi yang layak.

Inflasi tinggi yang terus berlanjut menandakan The Fed mungkin tidak dapat dengan cepat menyelamatkannya dengan penurunan suku bunga. "Itu bisa bertahan lebih lama karena mungkin The Fed tidak dapat mengurangi rem terlalu cepat," katanya.

Sementara itu, kondisi pasar saham terus menguat meskipun The Fed telah mengisyaratkan perang terhadap inflasi belum berakhir. Hal ini bisa jadi merupakan salah penafsiran dari para investor terhadap sinyal dari The Fed.

Dudley memperingatkan, kenaikan di pasar saham mungkin kontraproduktif karena diterjemahkan menjadi kondisi keuangan yang lebih mudah. "Ironisnya, reli besar di pasar keuangan meningkatkan tekanan pada Fed untuk berbuat lebih banyak," kata Dudley.

Perlu diketahui, The Fed menaikkan suku bunga acuannya minggu lalu sebesar 75 basis poin dalam dua bulan berturut-turut. Dudley mengatakan, kesulitan saat ini disebabkan prediksi mereka yang buruk karena tidak menaikkan suku bunga sampai inflasi sudah sangat tinggi.

Sementara itu, Pejabat The Fed bersikeras mereka masih bisa menjinakkan inflasi tanpa menyebabkan resesi.

"Kami pikir ada jalan bagi kami untuk dapat menurunkan inflasi sambil mempertahankan pasar tenaga kerja yang kuat," kata Gubernur The Fed Jerome Powell dalam konferensi pers minggu lalu.

(ara/ara)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT