ADVERTISEMENT

Teken Dekrit, Putin Larang Keras Perusahaan Asing Jual Aset

Ilyas Fadilah - detikFinance
Sabtu, 06 Agu 2022 16:35 WIB
MOSCOW, RUSSIA - JUNE 12: (RUSSIA OUT) Russian President Vladimir Putin attends the State Awarding Ceremony at the Grand Kremlin Palace, June,12,2022, in Moscow, Rusia. Russia Day, celebrated annually on 12 June since 1992, commemorates the adoption of the Declaration of State Sovereignty of the Russian Soviet Federative Socialist Republic (RSFSR) (Photo by Contributor/Getty Images)
Foto: Getty Images/Contributor: Presiden Rusia Vladimir Putin
Jakarta -

Rusia melarang investor dari negara yang dicap 'tidak bersahabat' menjual saham di proyek energi dan perbankan hingga akhir tahun. Keputusan ini meningkatkan tensi dalam perselisihan sanksi Rusia dengan Negara Barat.

Negara barat dan sekutunya, termasuk Jepang, memberlakukan sanksi kepada Rusia buntut invasi Putin ke Ukraina. Rusia pun membalasnya dengan menghambat bisnis perusahaan barat yang berencana meninggalkan Rusia, termasuk menyita aset mereka.

Mengutip Reuters, Sabtu (6/8/2022), Presiden Rusia Vladimir Putin menandatangani dekrit yang terbit pada hari Jumat (5/8/2022). Isinya, Rusia melarang negara-negara yang mendukung sanksi terhadap negaranya untuk menjual aset mereka di sektor perjanjian bagi hasil (PSA), bank, entitas strategis, perusahaan produsen peralatan energi, termasuk di sektor Migas.

Menurut dekrit tersebut, Putin bisa mengeluarkan pengecualian khusus dalam kasus-kasus tertentu agar kesepakatan tetap berjalan. Dan pemerintah serta bank sentral harus menyiapkan daftar bank untuk persetujuan Kremlin. Sayangnya, tidak ada nama investor yang disebut dalam keputusan ini.

Larangan tersebut mencakup hampir semua proyek keuangan dan proyek energi, di mana investor asing masih memiliki saham seperti dalam proyek minyak dan gas Sakhalin-1.

Pada hari Kamis (4/8/2022), raksasa minyak Rusia Rosneft menyalahkan Exxon Mobil karena penurunan produksi di kelompok ladang Sakhalin-1. Perusahaan asal AS itu mengatakan sedang dalam proses mentransfer 30% sahamnya ke pihak lain.

Secara terpisah, keputusan pemerintah yang ditandatangani pada 2 Agustus, Rusia memberikan waktu satu bulan bagi investor di proyek gas alam cair (LNG) Sakhalin-2 untuk mengklaim saham mereka di entitas baru yang akan menggantikan proyek yang ada. Diketahui Royal Dutch Shell dan perusahaan asal Jepang, Mitsui & Co (8031.T) dan Mitsubishi Corp (8058.T) adalah investor di proyek tersebut.

Bersambung ke halaman berikutnya. Langsung klik

Sebagai catatan, keputusan terbaru Rusia tidak mencakup proyek Sakhalin-2. Pada hari Kamis sebelum adanya larangan, Exxon mengatakan telah membuat kemajuan yang signifikan keluar dari usaha Sakhalin-1, menyebut jika proses penarikan adalah hal yang kompleks.

Shell sedang mencari opsi untuk menarik diri dari proyek. Sementara pemerintah Jepang menegaskan kembali keinginannya agar perusahaan Jepang mempertahankan saham mereka di sana.

UniCredit Italia (CRDI.MI) dan Intesa (ISP.MI), grup AS Citi dan Raiffeisen Austria (RBIV.VI) terus mencari opsi untuk keluar dari Rusia, sementara yang lain seperti Societe Generale (SOGN.PA), (ROSB. MM) dan HSBC telah menemukan jalan keluar.

Citigroup pada hari Kamis mengatakan jika pihaknya masih dalam proses pengajuan akan terus mengurangi operasi dan eksposur ke Rusia. Citigroup telah berhenti meminta bisnis baru atau klien baru di Rusia.

(hns/hns)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT