ADVERTISEMENT

Inflasi RI Diklaim Lebih Rendah dari Thailand-AS

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Minggu, 07 Agu 2022 06:38 WIB
Bijak Menyikapi Inflasi
Foto: detik
Jakarta -

Angka inflasi Indonesia per Juli 2022 hampir menyentuh 5%. Namun inflasi inti masih berada pada level 2,86%. Kenaikan inflasi ini disebabkan oleh mobilitas masyarakat yang mulai meningkat pada kuartal II.

Kondisi ini membuat sektor transportasi dan akomodasi tumbuh pesat karena adanya pelonggaran mobilitas yang dilakukan oleh pemerintah.

"Tingkat inflasi nasional memang dalam tren yang meningkat, terutama dalam dua bulan terakhir," tulisnya dikutip Sabtu (6/8/2022).

Kemenkeu menyebut angka inflasi Indonesia masih relatif terkendali jika dibandingkan dengan negara lain, seperti AS, UK, Eropa, Singapura, Thailand, dan Filipina yang inflasinya melonjak hingga masing-masing sebesar 9,1%; 9,4%; 8,6%; 6,7%; 7,7%; dan 6,1% pada periode yang sama (Juni-2022).

Inflasi yang cenderung moderat ini juga tercermin dari perbedaan yang signifikan dibandingkan dengan tingkat kenaikan harga produsen yang mencapai 11,8% pada kuartal II 2022.

Ke depan, dinamika global masih akan menjadi tantangan utama bagi stabilitas harga domestik. Peran APBN dalam menjaga momentum pemulihan akan terus dimaksimalkan, terutama dalam melindungi daya beli masyarakat berpendapatan rendah.

Di tengah tingginya harga komoditas energi, investasi tumbuh moderat pada kuartal II-2022. Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) pada periode ini dapat tumbuh 3,1%(yoy). Namun demikian, investasi dalam rangka keberlanjutan ekspansi industri dan dunia usaha masih terjaga dengan baik.

Kepala BPS Margo Yuwono mengungkapkan kebijakan subsidi dan bantuan sosial serta suku bunga yang ditahan cukup efektif dalam mengendalikan inflasi domestik, menjaga daya beli masyarakat dan menjaga kondisi dunia usaha tetap kondusif.

Margo juga menjelaskan kondisi pertumbuhan ekonomi ini memang akan mempengaruhi daya beli. Menurut dia untuk daya beli ini dilihat dari angka inflasi inti yang saat ini berada di level 2,86%.

Inflasi di Indonesia tinggi karena volatile food yang disebabkan oleh naiknya harga cabai rawit dan bawang. Tapi itu temporer karena cuaca ekstrim dan supply yang terbatas, sehingga produksinya berkurang.

Menurut dia, inflasi inti masih moderat dan menunjukkan daya beli masyarakat yang semakin bagus. "Jadi inflasi inti tumbuh itu indikasi daya beli bagus, hanya saja jangan tumbuh terlalu tinggi. Kalau tumbuh terlalu tinggi, daya beli juga bisa merosot. Tapi kita di 2,86% itu masih moderat, ini yang menunjukkan daya beli kita bagus," imbuh dia.

(kil/dna)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT