ADVERTISEMENT

AS Punya RUU Baru Atur Obat Murah Hingga Pajak Minimal, Ini Isinya

Shafira Cendra Arini - detikFinance
Selasa, 09 Agu 2022 08:52 WIB
The U.S. Capitol is seen between flags placed on the National Mall ahead of the inauguration of President-elect Joe Biden and Vice President-elect Kamala Harris, Monday, Jan. 18, 2021, in Washington.
Foto: AP/Alex Brandon
Jakarta -

Senat Amerika Serikat (AS) menyetujui Rancangan Undang-Undang (RUU) senilai US$ 700 miliar atau Rp 10.500 triliun yang mencakup perawatan kesehatan, pajak, dan perubahan iklim. RUU tersebut dibuat sebagai upaya dalam memangkas biaya kesehatan, meningkatkan pajak perusahaan, dan mengurangi emisi karbon.

RUU ini merupakan hasil dari perdebatan sengit selama 18 bulan, disahkan dengan selisih suara 51-50 pada Minggu, di mana suara Wakil Presiden AS Kamala Harris yang menjadi penentu.

"Setelah lebih dari satu tahun kerja keras, Senat membuat sejarah. Bagi orang AS yang telah kehilangan kepercayaan bahwa Kongres dapat melakukan hal-hal besar, RUU ini untuk Anda," ujar Pemimpin Senat Demokrat Chuck Schumer, dilansir BBC pada Selasa (9/8/2022).

RUU akan dikirim ke DPR AS yang diharapkan disahkan dalam pemungutan suara pada Jumat mendatang, sebelum ditandatangani presiden menjadi Undang-Undang (UU).

Isi RUU Terbaru AS

RUU ini mencakup aturan yang memungkinkan pemerintah untuk menegosiasikan harga yang lebih rendah untuk resep obat yang disediakan di bawah program asuransi kesehatan Medicare untuk mereka yang berusia di atas 65 tahun. Menurut perkiraan dari Kantor Anggaran Kongres non-partisan, UU ini diperkirakan menghemat ratusan miliar dolar AS pada dekade berikutnya.

Kebijakan tersebut juga memuat aturan pajak minimal 15% untuk sebagian besar perusahaan yang menghasilkan keuntungan lebih dari US$ 1 miliar per tahun. Sebelumnya, kebijakan ini diperdebatkan selama negosiasi di Kongres, serta ditentang oleh asosiasi bisnis yang berpendapat dampaknya akan membatasi investasi.

Lebih lanjut, kebijakan itu juga mencakup US$ 369 miliar untuk mengatasi perubahan iklim, dan menjadi investasi terbesar untuk masalah iklim dalam sejarah AS. Dari aksi tersebut, masyarakat dapat menerima kredit pajak hingga US$ 7.500 untuk membeli mobil listrik, atau US$ 4.000 untuk mobil bekas.

Miliaran dolar AS juga akan dihabiskan dalam upaya untuk mempercepat produksi teknologi bersih seperti panel surya dan turbin angin. Tidak hanya itu, US$ 60 miliar juga akan diberikan kepada masyarakat yang paling terkena dampak akibat polusi bahan bakar fosil.

Hal ini akan memangkas emisi karbon AS 40% pada 2030 . Di sisi lain, aksi iklim ini dilandasi kondisi AS yang tengah mengalami gelombang cuaca ekstrem, termasuk gelombang panas baru-baru ini serta banjir mematikan di Kentucky yang menewaskan puluhan orang.

Tidak hanya itu, dunia semakin panas 1,1 derajat celcius sejak era industri dimulai dan akan terus meningkat kecuali pemerintah di seluruh dunia memangkas emisi. Atas upaya mewujudkan kebijakan ini, seorang Senator Demokrat dari Hawaii, Brian Schatz, dilaporkan menangis bahagia saat meninggalkan ruangan.

"Sekarang saya bisa menatap mata anak saya dan mengatakan kami benar-benar melakukan sesuatu tentang iklim," kata Brian.

Sementara itu, beberapa Senator Republik mengatakan akan mencoba untuk menunda atau memblokir kemajuan RUU tersebut. Seperti halnya Senator Republik Florida Marco Rubio yang mengungkapkan, RUU ini tidak tepat sasaran karena tidak membantu menurunkan harga untuk pekerja atau memenjarakan penjahat.

Simak juga Video: Minimalisir Sampah Luar Angkasa, AS Akan Revisi Kebijakan

[Gambas:Video 20detik]




(ara/ara)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT