Bahan Baku Mahal, Unilever Naikkan Harga Produk 10%

ADVERTISEMENT

Bahan Baku Mahal, Unilever Naikkan Harga Produk 10%

Anisa Indraini - detikFinance
Selasa, 06 Sep 2022 09:40 WIB
Logo Unilever
Foto: AP Photo/Richard Drew
Jakarta -

PT Unilever Indonesia Tbk mengungkapkan telah menaikkan harga produknya dengan besaran kurang lebih 10% pada paruh pertama (H1-2022). Hal ini untuk merespons kenaikan harga bahan baku akibat kondisi global.

Presiden Direktur Unilever Indonesia Ira Noviarti mengatakan kenaikan yang dibebankan kepada konsumen itu hanya sedikit dari beban kenaikan harga yang ditanggungnya.

"Jadi perusahaan itu melakukan price growth di H1 (2022) kurang lebih sekitar 10%. Padahal kalau misalkan kita lihat harga-harganya yang naik luar biasa, 10% itu paling hanya bisa meng-fill in less dari beberapa persen di beban harga raw material. Jadi kita nggak mau bebankan lebih banyak lagi," kata Ira dalam wawancara khusus detikcom yang tayang Jumat (2/9/2022).

Ira menyebut besaran kenaikan harga produknya berbeda-beda tergantung kategori. "Nggak semua produk (naik 10%), sangat bervariasi. Seperti contohnya di nutrition itu dia naiknya mungkin sekitar 5%-an, ice cream agak sedikit lebih tinggi, jadi kita lihat berdasarkan kemampuan konsumen meng-adopt price growth tersebut," tambahnya.

Ira memprediksi kenaikan harga bahan baku akan terus terjadi sampai akhir tahun 2022. Hal ini disikapi perusahaan dengan cara melakukan penghematan agar harga bahan baku yang naik tidak seluruhnya dibebankan ke konsumen.

"Banyak materi yang kita impor dari luar bahkan palm oil masih cukup tinggi harganya. Walaupun kita diminta mendelivery profit, kita coba melakukan efisiensi di seluruh lini perusahaan, saving-nya diperbagus sehingga inefisiensi yang terjadi bisa membantu profit kita tanpa harus membebankan harga ke konsumen di mana nanti takutnya volumenya malah terganggu," ujarnya.

Kinerja Perusahaan

Unilever Indonesia melaporkan kinerja keuangan pada semester I-2022 berhasil mencatatkan penjualan bersih sebesar Rp 21,4 triliun, dengan penjualan domestik tumbuh 6,8% (yoy). Perusahaan juga masih mencatatkan pertumbuhan laba bersih 12,6% (yoy) atau sebesar Rp 3,4 triliun.

"Bismillah insyaallah semuanya bisa positif di Semester II ini dan kita bisa tumbuh dengan baik walaupun tantangannya tidak akan mudah," kata Ira dengan optimis.

Ira menjelaskan kinerja positif itu didorong oleh beberapa hal di antaranya fundamental yang solid melalui penguatan pondasi di Distributive Trade; penguatan di channel masa depan (e-Commerce), serta di kategori dan brand-brand kunci yang didukung dengan investasi kuat.

Seiring dengan pulihnya perekonomian Indonesia dan mobilitas masyarakat, Unilever mengklaim loyalitas konsumen semakin kuat kepada brand-brand andalannya. Hal ini sejalan dengan salah satu dari lima strategi prioritas perusahaan yaitu memperkuat potensi dari brand-brand besar dan produk utama melalui inovasi dan program marketing untuk mendorong pertumbuhan pasar.

Pada kuartal II-2022, divisi Foods dan Refreshment (F&R) seperti Royco, Bango, Sariwangi, hingga Buavita mencatatkan pertumbuhan 7,5%. Di tengah kompetisi dan banyaknya alternatif produk pesaing, brand-brand tersebut berhasil mencatatkan pembelian ulang secara berkala dari konsumen.

Sementara itu, divisi Personal Care (PC) pada kuartal II-2022 berhasil membukukan pertumbuhan penjualan double-digit sebesar 10,7% yang didorong oleh kinerja kuat dari kategori Oral Care (Pepsodent) dan Deodorant (Rexona).

Kemajuan positif juga ditunjukkan oleh kategori fabric cleaners dari divisi Home Care (HC), serta divisi Unilever Foods Solution (UFS) yang terus tumbuh sebesar 16,5%.

(aid/eds)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT