Pengusaha Ngaku Rugi Saat Dipaksa Jual Minyak Goreng Rp 14 Ribu/Liter

ADVERTISEMENT

Pengusaha Ngaku Rugi Saat Dipaksa Jual Minyak Goreng Rp 14 Ribu/Liter

Aulia Damayanti - detikFinance
Selasa, 13 Sep 2022 17:30 WIB
Sunflower oil in the store
Ilustrasi Minyak Goreng. Foto: Getty Images/iStockphoto/sergeyryzhov
Jakarta -

Pengusaha minyak goreng buka-bukaan penyebab kelangkaan minyak goreng yang terjadi pada awal tahun ini kepada Komisi VII DPR RI. Untuk informasi, kelangkaan itu terjadi saat perusahaan minyak goreng dipaksa oleh pemerintah untuk menjual seharga Rp 14.000/liter untuk kemasan premium.

Direktur PT Indofood Sukses Makmur Tbk Franciscus Welirang atau Franky mengatakan minyak goreng bisa mengalami kelangkaan karena pengusaha tidak bisa menjual seharga Rp 14.000 per liter. Di mana saat itu pemerintah memaksa perusahaan untuk menjual minyak goreng kemasan premium Rp 14.000/liter.

Dalam pertemuan dengan Komisi VII ini, Franky mewakili atas nama Grup Salim. Perusahaan itu memiliki dua anak perusahaan yang memproduksi dan menjual minyak goreng PT Indofood Sukses Makmur Tbk dan PT Salim Ivomas Pratama Tbk (SIMP).

"Apa yang menyebabkan langka pada saat ditetapkan minyak goreng murah pada saat itu Rp 14.000? Semuanya rugi. Itu yang akibatnya semuanya nggak bisa menjual hasilnya karena tidak ada masa transisi hanya langsung, kalau jual di atas Rp 14.000 ditangkap. Polisi-polisi semua keliling," katanya saat rapat dengar pendapat dengan Komisi VII DPR RI, Selasa (13/9/2022).

Franky bercerita, saat pemerintah menetapkan kebijakan jual minyak goreng Rp 14.000/liter, namun di sisi lain sudah ada minyak goreng yang terdistribusi dengan harga lama. Namun dalam kesempatan itu tidak diungkapkan apakah perusahaan menahan stok atau tidak.

"Kan itu sudah dijual harga tinggi, harganya besok harus langsung 'tek' Rp 14.000. Itu yang terjadi pak, akibatnya kelihatan langkah, itulah," ungkapnya.

Untuk saat ini, Franky mengatakan kondisinya sudah membaik melalui program yang diawasi oleh Kementerian Perindustrian yakni Simirah. Franky juga mengatakan perusahaan yang tidak pernah memproduksi minyak goreng curah, saat ini mau tidak mau memproduksi komoditas itu untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dengan harga terjangkau.

Dalam kesempatan yang sama, Direktur Utama PT Sinarmas Agro Resources And Technology, Tbk (Smart) Irwan Tirtariyadi juga mengakui adanya kekosongan minyak goreng pada awal tahun 2022 ini. Namun, dirinya tidak menjelaskan penyebab kenapa terjadi kelangkaan.

Ia hanya mengatakan bahwa selama ini perusahaannya sudah dibagi-bagi dalam distribusi untuk domestik maupun ekspor. Untuk refinery minyak di Jawa dikhususkan untuk produksi dan distribusi ke domestik.

"Satu di Sumatera dan satunya lagi di Kalimantan itu ditujukan untuk ekspor. Itu tidak berubah. Kalau dua di Jawa untuk domestik. Kalau memang tadi kenapa ada kekosongan memang debatnya panjang sekali," tutupnya.

Sebagai informasi, Indonesia sempat mengalami kelangkaan minyak goreng saat awal tahun ini. Saat itu memang terjadi setelah pemerintah mengeluarkan kebijakan agar perusahaan minyak goreng harus menjual seharga Rp 14.000 per liter untuk kemasan premium.

Kebijakan itu dikeluarkan untuk menekan harga minyak goreng kemasan yang saat itu melonjak tajam di kisaran harga Rp 21.000 sampai Rp 25.000 per liter. Minyak goreng curah sendiri juga mengalami lonjakan harga di mana saat itu juga mencapai Rp 20.000 per liter di pasar.



Simak Video "Zulhas Pastikan Minyak Goreng Curah Tetap Ada di Pasaran"
[Gambas:Video 20detik]
(ada/das)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT