ADVERTISEMENT

Peringatan Dini! Badai Resesi Bukan Isapan Jempol, RI Harus Siaga

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Sabtu, 17 Sep 2022 08:30 WIB
Resesi Adalah
Ilustrasi resesi/Foto: Infografis detikcom/Mindra Purnomo
Jakarta -

Bank Dunia (World Bank) membeberkan risiko resesi global pada 2023 semakin meningkat. Pasalnya bank sentral di seluruh dunia secara bersamaan menaikkan suku bunga untuk memerangi inflasi.

Di sisi lain, tiga kekuatan ekonomi terbesar dunia yakni Amerika Serikat (AS), China dan kawasan Uni Eropa (UE) telah melambat.

"Bahkan pukulan moderat terhadap ekonomi global selama tahun depan dapat mendorongnya ke dalam resesi," kata Bank Dunia dalam studi barunya dikutip dari Reuters, Jumat (16/9/2022).

Ekonomi global saat ini dalam perlambatan paling tajam menyusul pemulihan pasca resesi sejak 1970. Kepercayaan konsumen juga telah turun lebih tajam daripada menjelang resesi global sebelumnya.

Dia khawatir tren ini akan bertahan dengan konsekuensi pasar negara berkembang dan ekonomi berkembang akan hancur.

Lalu, bagaimana nasib Indonesia? Managing Director Political Economy and Policy Studies (PEPS) Anthony Budiawan mengungkapkan jika saat ini kondisi ekonomi dunia masih akan tertekan.

Apalagi angka inflasi yang belum turun, maka suku bunga akan naik terus hingga tahun depan.

"Konsumsi masyarakat dan investasi akan turun, mungkin akan ada perusahaan yang bangkrut dan kondisi akan melemah," kata dia, Jumat (16/9/2022).

Dia mengungkapkan hal ini akan memicu pelemahan ekonomi dunia, termasuk Indonesia. Terlebih jika harga komoditas akan turun dan mempercepat pelemahan ekonomi Indonesia. Karena itu pemerintah harus lebih ekspansif dalam menempuh kebijakan fiskal.

Direktur CELIOS Bhima Yudhistira Adhinegara mengungkapkan jika itu bukan sekadar proyeksi karena ekonomi beberapa negara besar sudah mengalami perlambatan.

"Ini bukan hanya sekadar ramalan, tapi sudah terjadi pada Amerika Serikat (AS) yang negatif ini mencerminkan ada resesi di negara maju," kata Bhima.

Bhima mengungkapkan Uni Eropa saat ini juga sudah mengalami tekanan pada pertumbuhan ekonomi. Apalagi dengan adanya krisis energi dan krisis pangan sehingga biaya hidup masyarakat terus naik.

Bersambung ke halaman berikutnya. Langsung klik

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT