BI: Pertumbuhan Ekonomi RI di Bawah Target Tahun 2006

BI: Pertumbuhan Ekonomi RI di Bawah Target Tahun 2006

- detikFinance
Kamis, 06 Jul 2006 14:14 WIB
Jakarta - Hingga triwulan II 2006, pertumbuhan ekonomi Indonesia belum benar-benar pulih dan sesuai dengan yang diharapkan. Pada periode triwulan II, pertumbuhan ekonomi diperkirakan mencapai 4,6-5,1 persen, yang terutama didorong oleh meningkatnya ekspor."Melambatnya pertumbuhan ini terutama karena rendahnya permintaan domestik yang dipengaruhi oleh belum meningkatnya daya beli masyarakat sebagaimana tercermin pada upah riil yang masih menurun," urai Gubernur BI Burhanuddin Abdullah.Hal tersebut disampaikannya dalam konferensi pers di Gedung BI, Jalan MH Thamrin, Jakarta, Kamis (6/7/2006).Burhanuddin menambahkan, penurunan pertumbuhan ekonomi juga disebabkan oleh belum membaiknya iklim investasi dan dampak multiplier pengeluaran pemerintah yang masih relatif rendah.Sebelumnya, BPS merilis nilai ekspor Indonesia mencatat rekor tertingginya selama Mei 2006 yakni sebesar US$ 8,34 miliar. Nilai ekspor selama Januari-Mei 2006 mencapai US$ 38,39 miliar atau meningkat 13,40 persen dibanding periode yang sama tahun 2005. BPS juga memrediksi ekspor Indonesia selama tahun 2006 bisa mencapai US$ 100 miliar. Disebutkan, konsumsi rumah tangga dan investasi swasta diperkirakan tumbuh masing-masing sebesar 3-3,5% dan 1,4-1,9%. Angka itu berarti lebih rendah dari triwulan yang sama tahun sebelumnya.Rendahnya pertumbuhan konsumsi dan investasi, lanjut Burhanuddin, mengakibatkan permintaan kredit relatif terbatas, yaitu selama Jan-Mei 2006 hanya tumbuh sebesar 2,4%. Sementara ekspor barang dan jasa diperkirakan tumbuh sebesar 11,8-12,3% terutama didukung oleh meningkatnya ekspor bahan-bahan mineral dan industri pengolahan seperti kelapa sawit, karet dan kertas, seiring dengan meningkatnya permintaan dunia. Untuk pengeluaran pemerintah dalam semester I-2006 diperkirakan baru mencapai 33% dari APBN. "Dengan perkembangan tersebut, untuk keseluruhan tahun 2006, pertumbuhan ekonomi diperkirakan bergerak ke arah bawah dari proyeksi 5-5,7%," jelas Burhanuddin. (qom/)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads