ADVERTISEMENT

d'Mentor: Wanti-wanti Data Security

Edward F. Kusuma - detikFinance
Kamis, 22 Sep 2022 13:01 WIB
Jakarta -

"Data is the new oil" adalah jargon yang sempat populer di kalangan masyarakat. Bahkan, Presiden Jokowi pun mengutip frasa ini. Dalam sebuah pidato, ia mengatakan bahwa data memiliki nilai yang tinggi hingga lebih berharga dari minyak.

"Data sekarang ini adalah jenis kekayaan baru. Saat ini data adalah new oil. Bahkan lebih, bahkan lebih berharga dari minyak. Data yang valid merupakan kunci utama kesuksesan pembangunan negara," kata Jokowi dalam pencanangan Pelaksanaan Sensus Penduduk 2020 di Istana Negara, seperti ditulis dalam detikcom, Jumat (24/1/2020).

Data menjadi unit bisnis baru seiring kebutuhan dalam mengelola serta mendorong awareness terhadap sebuah produk. Pengelolaan data oleh sebuah perusahaan berimbas pada perilaku konsumen terhadap produk yang mereka kembangkan. Lebih jauh, perusahaan pengelola data berkesempatan untuk meningkatkan penjualan, market share, peningkatan layanan konsumen. Sebab, data yang kuat dapat mematahkan segala bentuk opini yang dilemparkan.

Di sisi lain, munculnya Bjorka di Indonesia mendobrak kritik bahwa tingkat keamanan data di negara ini bukanlah prioritas. Indonesia belum berdaulat atas keamanan data para penduduknya. Ruby Alamsyah founder Data Forensic Indonesia mengatakan, Indonesia adalah sasaran empuk bagi para pembobol data. Oleh karena itu, sistem keamanan data perlu diperhatikan secara maksimal.

"Kita salah satu negara terbesar di Asia Tenggara, penduduknya besar, internetnya banyak penggunanya. Dari segala sudut pandang baik itu ekonomi maupun kriminal seksi. Sehingga, kebocoran data ini akan sangat menarik untuk para hacker untuk menjual data alias market-nya besar," ungkapnya dalam program Blak-blakan detikcom, Kamis (15/9).

Lebih lanjut Ruby menjelaskan, pembobolan data secara massif menunjukkan bahwa pencurian dilakukan bukan dalam skala individu melainkan pada level korporasi. Artinya, bukan hanya masyarakat yang perlu selalu didorong untuk mengamankan data mereka masing-masing tetapi para perusahaan sebagai pengepulnya.

"Ini yang terjadi kebocoran masif loh, bocor masif itu adalah di sebuah platfrom bukan individual jadi tidak ada kesalahan individual menyimpan NIK gitu," tuturnya.

Melihat banyaknya pembobolan data dari berbagai lini mulai dari pemerintahan hingga marketplace skala unicorn, d'Mentor kali ini akan membahas tentang pentingnya menjaga keamanan data. Kembali soal jargon 'Data is the new oil', diskusi kali ini akan membahas bagaimana sebuah perusahaan menjaga keamanan data para konsumen serta seberapa besar potensi bisnis berbasis data di Indonesia.

Menghadirkan Ruby Alamsyah founder sekaligus CEO Data Forensic Indonesia, saksikan d'Mentor dengan tema "Wanti-wanti Data Security". Bagi anda yang ingin terlibat dalam diskusi, silakan bergabung melalui Youtube, Facebook, serta web detikcom. Anda juga dapat menyampaikan pertanyaan serta opini anda melalui link zoom yang tersedia di sepanjang acara.

(vys/vys)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT