ADVERTISEMENT

Sri Lanka Chaos! Sudah Krisis dan Bangkrut, Kini Inflasi Melonjak 70%

Zulfi Suhendra - detikFinance
Jumat, 23 Sep 2022 09:26 WIB
COLOMBO, SRI LANKA - AUGUST 02 : Sri Lankan policemen control the long queues of vehicles near a fuel station in Colombo, Sri Lanka, 02 August 2022. The economic crisis ridden island nation faced a grave fuel and other essential items shortage due to the lack of foreign exchange causing public outcry and protests. The government manages to import limited stocks of fuel and introduced a QR (Quick Response) Code system to ration fuel distribution. (Photo by M.A.Pushpa Kumara/Anadolu Agency via Getty Images)
Sopir angkutan mengante BBM di Sri Lanka/Foto: Anadolu Agency via Getty Images/Anadolu Agency
Jakarta -

Ekonomi Sri Lanka masih terus dihantam rintangan. Setelah bangkrut dan krisis, kini Sri Lanka harus menghadapi inflasi gila-gilaan.

Dilaporkan BBC, Jumat (23/9/2022), inflasi tahunan Sri Lanka melompat ke lebih dari 70% pada Agustus. Hal ini mereka alami saat sedang berperang melawan krisis ekonomi terburuk dalam 70 tahun terakhir.

Data resmi juga menunjukkan harga pangan naik 84,6% bila dibandingkan tahun lalu. Negara dengan populasi 22 juta orang ini tengah berjuang dari gejolak politik juga.

Sri Lanka juga tak mampu untuk melakukan impor komoditas penting seperti bahan bakar minyak hingga obat-obatan.

Bulan lalu, Bank Sentral Sri Lanka menyebut angka inflasi ini akan bisa diredam di tengah ekonomi yang terus memburuk. Angka ekonomi pada tiga bulan hingga Agustus minus 8,4%.

Sebelum pandemi, Sri Lanka sangat bergantung pada pariwisata untuk mata uang asing, termasuk dolar AS.

Namun, penutupan perbatasan yang bertujuan untuk memperlambat penyebaran COVID-19 membuat turis menjauh dan berdampak besar pada perekonomian negara.

Belum lagi diperparah dengan salah urus keuangan selama bertahun-tahun, yang menyebabkan Sri Lanka gagal bayar utang pada awal tahun ini.

Sri Lanka telah menghadapi pergolakan politik dalam beberapa bulan terakhir. Hal ini menyebabkan kerusuhan di negara tersebut. Sampai-sampai Presiden negara itu Gotabaya Rajapaksa melarikan diri ke luar negeri sebelum mengundurkan diri pada Juli.

Itu terjadi ketika ratusan ribu orang turun ke jalan, dalam protes yang sering berubah menjadi kekerasan, atas kenaikan tajam harga makanan dan bahan bakar.

Banyak orang Sri Lanka menyalahkan pemerintahan Rajapaksa karena salah menangani krisis.


Saksikan juga Detik-detik Pemilu: One Day With Puan Maharani

[Gambas:Video 20detik]




(zlf/ang)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT